BMKG : Waspada Potensi Cuaca Ekstrem !

Berita69 Dilihat

Jakarta, Berita Nusantara 89. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Perkiraan potensi yang masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena ini terpicu oleh krisis iklim global yang semakin berdampak pada pola cuaca nasional.

Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah Rahardjo mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan perubahan iklim. Lebih jauh, ia menyampaikan ini adalah fase krisis iklim yang berdampak pada meningkatnya cuaca ekstrem.

“Kenaikan suhu rata-rata bumi era industrialisasi memberikan dampak signifikan terhadap kejadian cuaca dan iklim ekstrem. Pola seperti ini masih akan terjadi. Kejadian hujan lebat dengan intensitas tinggi akan semakin sering kita alami,” kata Achadi Rabu, 21 Januari 2026.

BMKG menjelaskan bahwa peningkatan suhu rata-rata bumi telah menyebabkan perubahan signifikan pada dinamika atmosfer. Kondisi ini membuat cuaca menjadi semakin tidak menentu, dengan intensitas hujan yang lebih tinggi dalam waktu singkat, dengan angin kencang dan potensi badai. Dampaknya, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor ikut meningkat.

Menurut BMKG, puncak musim hujan pada awal tahun masih berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah daerah. Wilayah yang rawan antara lain Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain hujan ekstrem, masyarakat di wilayah pesisir juga agar waspada terhadap peningkatan tinggi gelombang laut.

BMKG menekankan bahwa kondisi ini tidak dapat lepas dari pengaruh fenomena iklim global seperti pergerakan monsun, dinamika suhu permukaan laut, serta gangguan atmosfer skala besar. Kombinasi faktor tersebut memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia.

Krisis iklim juga membuat kejadian cuaca ekstrem menjadi lebih sering dan sulit terprediksi. Perubahan pola musim yang tidak lagi konsisten menyebabkan masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berubah cepat. BMKG menilai bahwa fenomena ini bukan lagi kejadian musiman biasa, melainkan dampak jangka panjang perubahan iklim.

Langkah Mitigasi BMKG

BMKG mengungkap bahwa Januari akan menjadi puncak musim hujan. Selanjutnya potensi ekstrem hingga April. “Januari masih menjadi periode yang perlu diwaspadai karena merupakan puncak musim hujan di beberapa wilayah,” jelas Achadi.

Maret–April 2026, potensi cuaca ekstrem masih sangat mungkin terjadi. Adanya potensi terbentuknya Pusat Tekanan Rendah (low pressure center) di perairan selatan Indonesia hingga April. Selanjuntnya ini berasosiasi dengan dinamika atmosfer di wilayah tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus memperkuat sistem peringatan dini cuaca ekstrem. Penyebaran informasi prakiraan cuaca harian hingga peringatan dini secara berkala agar masyarakat dan pemerintah daerah dapat melakukan langkah mitigasi sejak dini. BMKG juga mendorong koordinasi lintas sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.

Pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan infrastruktur, seperti sistem drainase, tanggul sungai, serta jalur evakuasi di daerah rawan banjir dan longsor. Masyarakat juga agar memantau informasi cuaca resmi dan menyesuaikan aktivitas, terutama saat terjadi hujan lebat berkepanjangan.

BMKG menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem harus menjadi perhatian bersama. Dengan meningkatnya risiko akibat krisis iklim, kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak bencana.

Melalui pemantauan cuaca yang berkelanjutan dan respons cepat terhadap peringatan dini, agar potensi kerugian akibat cuaca ekstrem dapat minimal. BMKG mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.

Tinggalkan Balasan