Awal Puasa : Pemerintah 19 Februari, Muhammadiyah 18 Februari

Berita3369 Dilihat

Jakarta, Berita Nusantara 89. Pemerintah melalui Sidang Isbat Kementerian Agama telah menetapkan hasil sidang. Lebih jauh, Tanggal 1 Ramadan 1447 Hijriah, jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

“Berdasarkan hisab serta laporan hilal, sepakat 1 Ramadan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026.” Tegas Menteri Agama, Nasaruddin Umar dalam Konferensi Pers Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Selasa (17/2/2026).

Menteri Agama menjelaskan keputusan resmi ini setelah pemantauan hilal di sejumlah wilayah tidak memenuhi kriteria dari MABIMS. Lebih jauh, kriteria MABIMS adalah tinggi hilal minimum dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Nasaruddin melanjutkan bahwa pemantauan yang ada masih minim, yaitu 0 derajat 56 menit 23 detik. Hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. ” Secara hisab, data tersebut tidak memenuhi kriteria hilal MABIMS,” kata Nasaruddin.

Lebih jauh, hadir dalam sidang isbat sejumlah pihak dari berbagai elemen. Komisi VIII DPR RI terlihat hadir juga dari MUI, BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional. Selanjutnya hadir dari Observatorium Bosscha, Planetarium Jakarta dan Badan Informasi Geosapasial. Turut hadir juga perwakilan ormas Islam, pondok pesantren dan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.

Selanjutnya, keterlibatan banyak elemen ini untuk menunjukkan pendekatan berbasis keilmuan dan kolektif dalam proses sidang isbat.

Perbedaan Awal Puasa Dengan PP Muhammadiyah

Namun, penetapan awal Ramadan ini berbeda dengan penetapan PP Muhammadiyah. Sebelumnya PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Lebih jauh, merupakan adopsi dari penetapan dengan penggunaan Kalender Global Tunggal (KHGT).

Dalam pendekatannya, Muhammadiyah menerapkan satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Artinya, awal bulan tidak lagi bergantung perbedaan pada lokasi geografis.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi perbedaan awal Ramadhan. Selanjutnya sikap itu harus dengan cerdas dan tasamuh (saling menghargai). Selanjutnya, menurut Haedar, perbedaan awal Ramadhan sering terjadi dan menjadi sesuatu yang biasa. Ia menegaskan perbedaan akan muncul selama umat Islam belum memiliki kalender tunggal.

“Ruang ijtihad tentu tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar, Selasa (17/2/2026).

Tinggalkan Balasan