Jakarta, Berita Nusantara 89. Infrastruktur Internet global mengalami getaran besar setelah Cloudflare mengalami gangguan pada 18 November 2025. Insiden ini menyebabkan sejumlah situs populer seperti X (dulu Twitter), ChatGPT, dan layanan kripto tidak bisa terakses oleh banyak pengguna.
Kerusakan pertama kali terdeteksi lewat lonjakan laporan di platform pemantau pemadaman. Banyak pengguna mendapat pesan “internal server error” saat mencoba membuka situs yang mengandalkan layanan Cloudflare. Perusahaan langsung mengakui adanya degradasi layanan internal dan menyatakan mereka sedang menyelidiki penyebab masalah serta berupaya mengembalikan layanan ke kondisi normal.
Beberapa jam kemudian, Cloudflare mengumumkan bahwa sebagian layanan mulai pulih. Namun, dampak masih terasa karena sejumlah pengguna melaporkan bahwa akses belum sepenuhnya stabil. Salah satu layanan yang terdampak adalah WARP — layanan enkripsi dari Cloudflare — yang sempat bermasalah di London.
Efek gangguan ini tidak hanya di platform media sosial dan AI, tetapi juga ekosistem dunia finansial dan kripto. Misalnya, situs blockchain besar melaporkan error karena terganggunya infrastruktur Cloudflare yang mengakomodasi lalu lintas mereka.
Di Indonesia, dampaknya terasa nyata ketika situs seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) sulit terakses. Laporan pengguna lokal mengonfirmasi bahwa gangguan Cloudflare menyebabkan portal layanan publik jatuh, meskipun Cloudflare sudah menyatakan bahwa sebagian besar lalu lintas telah kembali normal.
Cloudfare : Lonjakan Trafik Di Salah Satu Jaringan
Menurut Cloudflare, akar masalah muncul karena lonjakan trafik yang “tidak biasa” yang melewati salah satu jaringannya. Lonjakan ini memicu kesalahan pada sistem internal yang menangani lalu lintas tersebut. Perusahaan mengklaim bahwa tidak ada indikasi serangan siber dalam insiden ini — masalah teknis murni menjadi penyebab.
CTO Cloudflare, Dane Knecht, menyatakan bahwa meski telah menerapkan perbaikan, mereka akan terus memantau sistem secara ketat untuk mencegah gangguan serupa di masa depan. Ia meminta maaf atas dampak oleh pengguna dan klien.
Gangguan ini membuka sorotan terhadap kerentanan infrastruktur inti internet. Sebab, ketika satu titik fundamental seperti Cloudflare bermasalah, dampaknya bisa meluas ke berbagai layanan penting dunia maya. Menurut pengamat keamanan siber, insiden ini menjadi pengingat bahwa stabilitas layanan global sangat bergantung pada sedikit perusahaan penyedia infrastruktur.
Cloudflare sendiri menangani porsi trafik dunia yang sangat besar. Ketika layanannya terganggu, efek domino langsung terasa di beragam sektor digital — media sosial, AI, hingga sistem blockchain.
Meski sebagian besar perbaikan sudah berjalan, Cloudflare belum menyatakan bahwa semua sistem sudah sepenuhnya kembali normal. Mereka menjanjikan pemulihan penuh akan dipantau hingga tingkat error kembali konsisten dan stabil.
Bagi masyarakat digital, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa internet, meski terlihat “tak berujung”, pada dasarnya dalam fondasi layanan teknis tertentu. Dan ketika fondasi itu goyah, hampir semua aspek kehidupan digital bisa ikut terguncang.









