Jakarta, Berita Nusantara 89. Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, akhirnya menanggapi isu yang menyebut Syuriyah memintanya mundur dari jabatan. Lebih jauh, usai menghadiri Rapat Ketua PWNU se-Indonesia di Surabaya, Sabtu (22/11/2025).
Selanjutnya ia menegaskan bahwa sampai saat ini belum menerima surat resmi yang memintanya untuk mengundurkan diri. Ia menyebut akan menunggu informasi lebih lanjut sebelum memberikan komentar lebih jauh.”Saya belum menerima. Lihat nanti, tunggu informasi ya.” ujarnya
Gus Yahya menekankan bahwa kedatangannya dalam rapat tersebut bertujuan untuk bersilaturahmi dan melakukan koordinasi dengan para pengurus wilayah. Ia enggan berbicara lebih banyak mengenai dinamika yang terjadi di internal PBNU. Setelah memberikan pernyataan singkat kepada awak media, ia langsung memasuki ruangan rapat dan melanjutkan agenda yang telah terjadwalkan.
Syuriyah PBNU Meminta Gus Yahya Mundur
Isu pengunduran diri Gus Yahya mencuat setelah munculnya risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang berisi keputusan agar ia mundur dalam waktu tiga hari. Dalam risalah tersebut, Rais Aam PBNU bersama dua Wakil Rais Aam telah menyepakati bahwa Gus Yahya harus melepaskan jabatannya. Jika tidak dalam batas waktu tersebut, rapat tersebut mengisyaratkan kemungkinan pencopotan jabatan secara langsung.
Ada dua alasan utama yang menjadi sorotan dalam rapat tersebut. Pertama, kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU yang melibatkan narasumber yang memiliki keterkaitan dengan zionisme internasional. Keikutsertaan narasumber itu menimbulkan kegaduhan internal dan tidak selaras dengan garis organisasi. Kedua, rapat tersebut menyinggung persoalan pengelolaan keuangan PBNU yang melanggar ketentuan organisasi dan prinsip pengelolaan dana yang sesuai syariat.
Dua isu ini menjadi dasar kuat bagi Syuriyah dalam memberikan tekanan agar Gus Yahya mundur dari jabatannya. Kondisi tersebut memicu perhatian publik karena menyangkut struktur tertinggi dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Respon Tokoh Internal
Sejumlah tokoh memberikan respons terkait memanasnya situasi tersebut. Salah satunya adalah Gus Ipul, yang menyarankan agar semua pihak menghormati mekanisme internal PBNU. Ia berharap seluruh proses dapat berjalan melalui musyawarah sehingga menghasilkan keputusan terbaik bagi organisasi.
Di sisi lain, Gus Yahya menilai keputusan yang tercantum dalam risalah rapat tersebut bersifat sepihak. Menurutnya, pengambilan keputusan tidak dengan ruang klarifikasi yang memadai. Ia menekankan bahwa mekanisme organisasi seharusnya memberi kesempatan kepada semua pihak untuk menyampaikan pandangan secara utuh sebelum keputusan.
Gus Yahya juga mengatakan tidak keberatan jika nantinya memang harus mundur, tetapi pergantian harus sesuai aturan organisasi dan tidak ada tekanan politik sesaat. Ia menginginkan proses yang bersih, adil, dan tetap menjaga marwah PBNU sebagai organisasi besar.
Kisruh internal ini muncul menjelang penyelenggaraan Muktamar PBNU, sehingga memunculkan berbagai spekulasi terkait dinamika politik di tubuh organisasi. Banyak pihak melihat bahwa desakan mundur terhadap Gus Yahya tidak dapat lepas dari manuver menjelang pemilihan kepengurusan baru.
Meski demikian, Gus Yahya menegaskan ia tetap fokus menjalankan tugas hingga ada keputusan resmi sesuai aturan. Ia meminta semua pihak menjaga kondusivitas agar PBNU tetap solid dalam menghadapi agenda besar tersebut.








