Jakarta, Berita Nusantara 89. Nama Marsinah muncul dalam penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Presiden mengumumkan nama Marsinah sebagai penerima penghargaan. Ahli waris Marsinah tak kuasa menahan tangis ketika penyematan penghormatan negara itu.
Penghormatan bagi Marsinah
Dalam upacara yang juga memperingati Hari Pahlawan, hadir para tokoh negara, keluarga pahlawan serta tamu undangan di Istana Negara. Saat nama Marsinah, dua orang perwakilan ahli waris berdiri di samping jejeran foto para penerima gelar. Wajah ahli waris tersebut memerah, sesekali menyekanya dengan tisu, dan terlihat menunduk penuh khidmat selama upacara berlangsung.
Penghargaan ini langsung oleh Presiden Prabowo Subianto melalui penyerahan map resmi yang dalam kotak kaca, bersamaan dengan plakat monumen sebagai simbol penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan. Marsinah, aktivis buruh dari Jawa Timur, diapresiasi atas pengabdian sosial dan kemanusiaannya.
Marsinah, Hingga Kini Kasusunya Belum Usai
Sosok Marsinah lahir di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, dan pernah bekerja sebagai buruh pabrik di wilayah Surabaya–Sidoarjo. Saat masih aktif bekerja, ia vokal memperjuangkan hak-hak rekan buruhnya, termasuk menuntut keadilan dalam kondisi kerja. Tragedi menimpanya ketika aksi mogok kerja pad awal Mei 1993 berakhir dengan kasus hilangnya Marsinah pada tanggal 5 Mei. Kemudian Polisi menemukan jenazahnya dalam kondisi mengenaskan beberapa hari kemudian.
Aparat penegak hukum terkesan menutupi upaya penuntasan kasus ini. Meskipun telah mengadili beberapa tersangka, namun mereka mendapatkan kebebasan setelah pengakuan mendapat paksaan. Tahun 2002, Presiden Megawati menyetujui penyelidikan kasus ini oleh Komnas HAM. Namun hingga kini belum ada titik terang terbongkarnya kasus ini.
Kini, setelah bertahun-tahun, pengakuan resmi dengan gelar Pahlawan Nasional memberikan penegasan bahwa perjuangannya sebagai bagian penting dalam sejarah hak buruh dan kemanusiaan Indonesia.
Pengakuan Untuk Kaum Marjinal
Tangisan ahli waris Marsinah bukan sekadar ekspresi emosional semata, tetapi juga representasi kelegaan dan pengakuan negara terhadap perjuangannya. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa suara pekerja, perjuangan sosial, dan pengorbanan — bahkan dari kelompok yang sebelumnya kurang terdengar — diakui dan dihormati.
Ahli waris tampak sangat terbawa suasana, wajah mereka mencerminkan kebanggaan sekaligus haru. Bagi banyak pihak, momen ini bukan hanya tentang satu individu, tetapi tentang pengakuan atas nilai keadilan, keberanian, dan semangat kolektifnya.
Penganugerahan gelar ini juga membawa pesan kuat: bahwa perjuangan tidak selalu terukur dalam medan perang fisik, melainkan bisa muncul dari perjuangan hak asasi manusia, kewargaan, dan keadilan sosial. Dengan memilih Marsinah sebagai salah satu penerima, negara menegaskan bahwa pahlawan nasional bisa datang dari berbagai latar, termasuk buruh perempuan yang berdiri untuk rekan-rekannya.
Acara ini juga menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional bukan hanya simbol, tetapi bagian dari upaya membumikan nilai-nilai luhur di masyarakat: keberanian, keadilan, pengabdian. Bagi generasi muda, kisah Marsinah seharusnya menjadi inspirasi bahwa siapa pun — dari latar belakang apa pun — bisa menjadi agen perubahan.













