MADIUN, Berita Nusantara 89. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia yang resmi meluncur pada 6 Januari 2025. Program tersebut untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi lengkap bagi kelompok masyarakat rentan. Yaitu anak usia sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
MBG sebagai respons terhadap permasalahan gizi buruk dan malnutrisi yang masih menjadi tantangan serius kesehatan masyarakat di Indonesia. sekaligus sebagai fondasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Secara nasional, MBG menargetkan hingga 82,9 juta penerima manfaat dengan dukungan anggaran sebesar Rp171 triliun. Dengan Pengelolaan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Skala program yang sangat besar ini menjadikannya sebagai salah satu intervensi pangan dan gizi terbesar dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia.
Manfaat utama paling nyata terlihat pada perbaikan status gizi fisik peserta didik. Penelitian kuantitatif di SMAN 1 Pebayuran terhadap 250 siswa menunjukkan bahwa partisipasi dalam program MBG. Hasilnya secara signifikan meningkatkan tingkat energi, daya tahan tubuh, serta menurunkan frekuensi sakit di kalangan pelajar. Kondisi fisik yang lebih sehat ini menjadi indikator awal bahwa intervensi gizi berjalan efektif.
Studi Positif Mengenai MBG
Studi ilmiah awal mengenai status gizi penerima MBG juga mengindikasikan adanya peningkatan asupan nutrisi penting. Terutama pemenuhan protein, vitamin, dan mineral dalam masa pertumbuhan.
Tinjauan nilai gizi menu MBG menyatakan bahwa program ini secara teoritis mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan nutrisi harian anak. Sehingga akan berpotensi menurunkan risiko kekurangan gizi kronis.
Dede Zainudin, dosen Universitas Indraprasta PGRI, merilis jurnal penelitian. Bahwa manfaat utama MBG memang paling nyata terlihat pada perbaikan status gizi fisik peserta didik.
“Program Makan Bergizi Gratis terbukti mampu meningkatkan stamina, daya tahan tubuh, serta menurunkan frekuensi sakit pada peserta didik. Ini menunjukkan bahwa intervensi gizi melalui MBG berjalan efektif,” tulis Dede Zainudin dalam hasil penelitiannya.
Hal ini sejalan dengan temuan dalam jurnal nutrisi Indonesia. Bahwa program makanan bergizi berhubungan positif dengan fungsi kognitif siswa sekolah dasar.
Nutrisi yang lebih seimbang terbukti mendukung kerja otak, khususnya dalam hal perhatian, daya ingat, dan kemampuan memahami materi pelajaran. Dengan demikian, MBG tidak hanya berperan sebagai intervensi kesehatan, tetapi juga sebagai instrumen pendukung proses pembelajaran di sekolah.
Efektivitas MBG sangat terpengaruh oleh kualitas dan komposisi menu makanan yang disajikan. Studi di Makassar membandingkan dua varian menu MBG menu dengan susu dan menu tanpa susu. Menunjukkan perbedaan signifikan dalam kontribusi energi dan protein. Menu dengan susu mampu menyediakan sekitar 742 kkal energi (28 persen RDA) dan 34,9 gram protein (46,5 persen RDA) bagi remaja.
Integrasi Pola Makan
Sementara, menu tanpa susu tetap menunjukkan kecukupan mikronutrien penting, seperti zat besi, yang memenuhi lebih dari 50 persen RDA.
Kualitas menu sangat menentukan dampak program MBG. Menu dengan komposisi seimbang mampu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi mikro peserta didik, demikian kesimpulan dalam studi tersebut.
Temuan ini mengindikasikan bahwa MBG memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi. Terutama zat mikro yang esensial bagi tumbuh kembang anak, selama perencanaan menu secara tepat dan berkelanjutan.
MBG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga mengintegrasikan edukasi pola makan sehat dalam pelaksanaannya di sekolah. Edukasi gizi ini bertujuan meningkatkan literasi gizi peserta didik serta menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Panduan pelaksanaan MBG di sekolah menyebutkan bahwa peningkatan pengetahuan gizi. Serta perubahan perilaku makan menjadi salah satu hasil yang diharapkan dari program ini.
Program ini tidak sekadar memberi makanan, tetapi juga membangun pemahaman siswa tentang pentingnya pola makan sehat. Sebagaimana tertulis dalam panduan pelaksanaan MBG di sekolah.
Dari sisi pendidikan, berbagai penelitian akademik memberikan kesimpulan positif. Bahwa perbaikan status gizi berimplikasi pada peningkatan kehadiran dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Siswa yang mendapatkan asupan gizi cukup cenderung lebih aktif, jarang absen, dan lebih siap mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Walaupun prestasi akademik terpengaruh oleh banyak faktor lain seperti lingkungan keluarga dan kualitas sekolah. Namun bukti empiris tetap menunjukkan adanya hubungan positif antara nutrisi yang memadai dan performa akademik.
Evaluasi di Balik Manfaat MBG
Meski menunjukkan banyak manfaat, evaluasi ilmiah juga mengungkap bahwa MBG berdampak terhadap aspek pembelajaran. Seperti konsentrasi dan kehadiran tidak selalu seragam. Penelitian di beberapa sekolah dasar di Jakarta menemukan bahwa meskipun berkontribusi pada peningkatan status gizi. Efeknya terhadap konsentrasi belajar dan absensi tidak selalu signifikan secara statistik.
Hasil ini menunjukkan bahwa program gizi perlu dukungan faktor eksternal lain. Seperti lingkungan keluarga dan kualitas pembelajaran di sekolah, tulis peneliti dalam laporan evaluasi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan MBG sangat terpengaruh oleh faktor eksternal. Dukungan keluarga, lingkungan sekolah, serta kualitas pelaksanaan program di lapangan. Oleh karena itu, penguatan implementasi dan sinergi dengan pemangku kepentingan lain menjadi kunci agar manfaat MBG dapat dirasakan secara optimal.
Data evaluasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi rujukan penting dalam mengukur dampak MBG secara empiris. Survei monitoring dan evaluasi pada pertengahan tahun 2025 melibatkan berbagai pihak. Mulai dari penyedia layanan gizi, pemasok bahan pangan, sekolah, hingga rumah tangga penerima manfaat.
Dampak Positif
Secara umum, responden menilai program MBG memberikan dampak positif kesehatan, pendidikan, dan ekonomi lokal. Demikian salah satu temuan awal survei BPS.
Hasil awal survei menunjukkan adanya persepsi positif terhadap dampak MBG pada kesehatan, pendidikan, serta penyerapan tenaga kerja. Juga penguatan rantai pasok bahan baku lokal, meskipun hasil statistik rinci belum terpublikasi secara nasional.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang memiliki potensi besar. Terutama dalam meningkatkan status gizi, kesehatan, dan kualitas pendidikan masyarakat Indonesia.
Dengan cakupan penerima manfaat yang luas dan anggaran signifikan, MBG menjadi fondasi penting pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045.
Keberhasilan MBG ke depan tergantung pada konsistensi implementasi dan kolaborasi semua pihak. Akan menjadi catatan penting dalam evaluasi program.
Namun, agar dampaknya optimal dan berkelanjutan. Tetap akan memerlukan evaluasi berkelanjutan. Terutama peningkatan kualitas implementasi, serta integrasi dukungan dari keluarga dan lingkungan sekolah.













