Jogjakarta, Berita Nusantara 89. Tanggal 18 November 1912 tercatat sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah Muhammadiyah. Pada hari itulah organisasi Islam Muhammadiyah resmi berdiri di Kampung Kauman, Yogyakarta. Organisasi ini lahir dari gagasan pembaruan pemikiran Islam oleh KH Ahmad Dahlan, tokoh yang membawa semangat modernisasi dalam pendidikan keagamaan.
Pada masa itu, Ahmad Dahlan melihat perlunya pembaruan cara beragama di tengah masyarakat. Ia menyaksikan bahwa pemahaman Islam perlu lebih sistematis, terstruktur, dan mengedepankan pemurnian ajaran. Dari pengamatan tersebut, ia mulai merintis pendidikan modern melalui sebuah madrasah kecil di rumahnya. Madrasah tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Muhammadiyah.
Ruangan pertama tempat para santri belajar ukurannya sangat sederhana, hanya sekitar enam meter kali dua setengah meter. Di sanalah sembilan murid awal mulai mempelajari agama dengan metode yang lebih teratur. Meski kecil, ruang itu menjadi pusat diskusi, kajian, dan pembentukan gagasan awal Ahmad Dahlan tentang pentingnya mengorganisir gerakan pembaruan.
Dukungan terhadap gagasannya datang dari para murid serta sahabatnya yang belajar di sekolah guru masa kolonial. Mereka mendorong agar gerakan pembaruan ini tidak berhenti pada madrasah saja, tetapi berkembang menjadi organisasi yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Dorongan itu akhirnya membuat Ahmad Dahlan menyusun anggaran dasar organisasi dan mengajukan legalitas kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Tanggal 18 November 1912 kemudian sebagai hari lahir Muhammadiyah. Pada tahap awal, organisasi ini memiliki tujuan utama menyebarkan ajaran Islam sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadis kepada masyarakat Yogyakarta. Selain itu, organisasi ini ingin memperkuat pemahaman keislaman anggotanya melalui pendidikan, pengajian, dan kegiatan sosial.
Milad Muhammadiyah : 113 Tahun Perjalanan Panjang
Perjalanan awal Muhammadiyah tidak selalu mudah. Meski sudah berdiri, organisasi ini belum langsung mendapatkan pengesahan pemerintah kolonial. Proses tersebut memakan waktu hampir dua tahun, hingga akhirnya pemerintah Belanda mengakui secara resmi keberadaan Muhammadiyah. Pengakuan ini membuka jalan bagi organisasi untuk berkembang lebih luas ke berbagai daerah di Nusantara.
Selain fokus pada pendidikan laki-laki, Ahmad Dahlan juga berperan dalam membuka ruang pendidikan bagi perempuan. Ia mendirikan kelompok pengajian khusus perempuan yang kelak berkembang menjadi salah satu pilar gerakan Muhammadiyah. Langkah ini sangat progresif pada zamannya, mengingat keterbatasan pendidikan bagi perempuan di masa itu.
Di Yogyakarta, Muhammadiyah kemudian memperluas kegiatan melalui pendirian sekolah, pembinaan keagamaan, serta kegiatan sosial. Dalam perkembangannya, organisasi ini tidak hanya menekankan pembaruan pemikiran, tetapi juga memperkuat peran umat dalam bidang kesehatan, kemanusiaan, dan pelayanan masyarakat.
Lebih dari satu abad setelah berdiri, Muhammadiyah kini tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Jejaring sekolah, universitas, rumah sakit, serta lembaga sosial hadir di berbagai wilayah. Namun, nilai fundamental oleh Ahmad Dahlan—kemurnian ajaran Islam, pendidikan modern, dan kepedulian sosial—tetap menjadi ruh utama organisasinya.
Tanggal 18 November setiap tahun pun menjadi pengingat akan lahirnya sebuah gerakan besar dari sebuah ruang kecil di Kauman, namun membawa pengaruh yang melintasi zaman.










