Jakarta, Berita Nusantara 89. Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatatkan lonjakan aktivitas penindakan dan edukasi yang masif dalam pelaksanaan Operasi Zebra 2025. Hingga hari kedua belas (H-12) operasi, terhitung sejak 17 hingga 28 November 2025, total penindakan hukum di seluruh wilayah nasional telah mencapai angka yang fantastis, yaitu 1.419.799 perkara.
Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho, menyatakan bahwa stabilitas operasional hingga hari ke-12 ini menandakan kematangan pengelolaan di lapangan. Ia menekankan bahwa pola kegiatan yang mencakup edukasi, pencegahan, dan penegakan hukum telah berjalan dalam skala besar dan terukur. Irjen Agus menegaskan bahwa menjaga konsistensi dan ketelitian analisis data harian menjadi kunci vital untuk menyusun strategi korektif menjelang penutupan operasi.
“H-12 sudah mapan. Sekarang menjaga konsistensi dan ketelitian analisis,” ujar Agus, Sabtu (29/11/2025).
Dominasi Penindakan Berbasis Teknologi (ETLE)
Dalam pelaksanaan penegakan hukum, Operasi Zebra 2025 secara tegas menempatkan teknologi sebagai tulang punggung utama penindakan. Sejalan dengan kebijakan pembatasan tilang manual. Dari total lebih dari 1,4 juta perkara, kontribusi penindakan melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (e-TLE) sangat signifikan.
Data mencatat bahwa e-TLE statis berkontribusi sebanyak 89.336 perkara, sementara e-TLE mobile mencatat 85.704 perkara. Pemanfaatan teknologi ini membuat angka penilangan manual mengalami penurunan drastis hingga 88,1 persen berbanding dengan periode sebelumnya.
Selain itu, memperkuat pendekatan edukatif dan humanis melalui peningkatan pemberian teguran di lapangan, yang melonjak hingga 90,8 persen dengan total 1.227.268 kegiatan. Hal ini menunjukkan komitmen Polri untuk menjadikan penegakan hukum sebagai sarana edukasi dan penegasan aturan secara seimbang.
Operasi Zebra 2025 : Edukasi dan Pencegahan Meningkat Drastis
Meskipun angka penindakan hukum tinggi, Korlantas memastikan upaya pencegahan dan edukasi (Giat Preemtif dan Preventif) juga meningkat secara masif. Kegiatan pembinaan dan penyuluhan (Binluh) melonjak signifikan hingga 906,9 persen dari tahun 2024, mencapai 572.481 kegiatan. Kegiatan ini menjangkau berbagai segmen, mulai dari sosialisasi di sekolah/kampus, komunitas, hingga perusahaan.
Sementara itu, kegiatan preventif juga menjadi penopang utama stabilitas ruang jalan dengan total 3.325.280 kegiatan, meningkat 201,9 persen dari tahun sebelumnya. Langkah-langkah preventif ini termasuk pemeriksaan mendadak (ramp check) terhadap bus dan truk sebanyak 102.605 kali serta peningkatan drastis penempatan personel di lokasi rawan pelanggaran, yang naik hingga 938 persen. Kakorlantas menekankan bahwa pencegahan yang kuat merupakan benteng pertama untuk menekan risiko pelanggaran dan kecelakaan.
Pelanggaran Berisiko Tinggi Jadi Prioritas
Berdasarkan pola selama H-12, Korlantas mengarahkan jajarannya untuk memprioritaskan penindakan pada perilaku yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan. Data menunjukkan adanya lonjakan tajam pada jenis-jenis pelanggaran yang mengancam keselamatan, antara lain:
- Pelanggaran tidak menggunakan helm SNI naik 137,5 persen (mencapai 345.490 perkara).
- Pengendara roda dua di bawah umur naik 157,3 persen (mencapai 59.262 kegiatan).
- Penggunaan handphone saat berkendara tercatat total 10.971 perkara.
Irjen Agus menyimpulkan bahwa tantangan seperti balap liar dan penggunaan gawai saat mengemudi menjadi indikator prioritas penanganan. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan e-TLE dan analisis data harian, Korlantas berharap kebijakan operasi akan tepat sasaran. Korlantas Polri berkomitmen menjaga profesionalitas dan mengajak masyarakat untuk terus mendukung operasi ini demi keselamatan bersama.













