Jakarta, Berita Nusantara 89. Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan 10 gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Dalam pengumuman tersebut, nama-nama seperti Abdurrahman Wahid, Soeharto dan Marsinah masuk daftar, bersama sejumlah tokoh lainnya dari berbagai bidang dan daerah. Lebih jauh, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini berdasarkan Keppres Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
“Menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada mereka yang namanya tersebut dalam lampiran keputusan ini. Sebagai penghargaan dan penghormatan tingi atas jasanya yang luar biasa. Untuk kepentingan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” isi kutipan dalam Keppres tersebut.
Berikut ini profil singkat dari tiap-tokoh yang mendapatkan gelar tersebut:
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Jawa Timur
Gus Dur lahir di Jombang pada 7 September 1940 dan wafat pada 30 Desember 2009. Ia sebagai tokoh Muslim Indonesia sekaligus Presiden ke-4 Republik Indonesia. Sebelum memimpin negara, ia aktif dalam organisasi keagamaan dan politik. Kemudian kepemimpinannya dengan semangat pluralisme dan demokrasi.
Soeharto – Jawa Tengah
Lahir di Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921. Dia memulai karier militer sebagai sersan KNIL, lalu naik menjadi perwira dan kemudian memimpin negara sebagai Presiden ke-2 RI. Ia juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dan pembangunan nasional.
Marsinah – Jawa Timur
Lahir 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk. Sebelumnya, bekerja sebagai buruh di beberapa pabrik di Surabaya dan Sidoarjo. Lebih jauh, ia vokal memperjuangkan hak pekerja, dan pada unjuk rasa Mei 1993 mengalami nasib tragis. Ia hilang kemudian meninggal dunia. Kemudian pemerintah mengakui Jasa-nya dalam perjuangan buruh dengan gelar pahlawan.
Mochtar Kusumaatmadja – Jawa Barat
Lahir 17 Februari 1929 di Jakarta. Akademisi dan diplomat terkemuka yang kemudian menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri dua periode. Selanjutnya, ia banyak mewakili Indonesia dalam forum internasional serta menjembatani isu-teritorial, laut dan diplomasi.
Rahmah El Yunusiyah – Sumatera Barat
Lahir di awal abad XX, pendiri Perguruan Diniyah Putri di Padang Panjang. Aktif dalam pendidikan perempuan dan perjuangan kemerdekaan di Sumatera Barat sebagai bagian dari Sabilillah dan Hizbullah. Kemudian ia menjadi tokoh perempuan penting dalam sejarah pendidikan dan perjuangan bangsa.
Sarwo Edhie Wibowo – Jawa Tengah
Tokoh militer yang pernah menjadi Komandan Resimen Pasukan Khusus dan Gubernur Akademi Militer. Ia memiliki peran dalam pembangunan militer Indonesia pasca-kemerdekaan dan sebagai figur penting dalam pertahanan negara.
Sultan Muhammad Salahuddin – Nusa Tenggara Barat
Sultan Bima ke-XIV yang memerintah di masa awal kemerdekaan dan tetap menentang kolonialisme Belanda. Kepemimpinannya sebagai sosok lokal sangat berpengaruh untuk daerah Bima dan perjuangan melawan penjajahan.
Syaikhona Muhammad Kholil – Jawa Timur
Guru besar pesantren yang hidup pada abad XIX hingga awal abad XX. Beliau mendidik banyak ulama besar dan memiliki kontribusi signifikan dalam dunia keagamaan di Indonesia, khususnya melalui pembelajaran Al-Qur’an dan tradisi pesantren.
Tuan Rondahaim Saragih – Sumatera Utara
Pejuang dari Kerajaan Raya, Simalungun (Sumatera Utara) pada masa akhir abad ke-XIX. Memimpin perlawanan terhadap upaya kolonial Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayahnya. Perjuangannya memberi teladan bagi daerah Pantai Timur Sumatera.
Zainal Abidin Syah – Maluku Utara
Lahir 15 Agustus 1912 di Soa-Sio, Tidore. Ia menjadi Gubernur Irian Barat pertama (1956-1961) dan memiliki kontribusi penting dalam pemerintahan serta pengintegrasian wilayah ke dalam republik. Tokoh ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk bangsa datang dari berbagai wilayah.
Pengumuman sepuluh pahlawan nasional ini menegaskan bahwa gelar tersebut tidak hanya kepada figur yang terlibat langsung dalam perang fisik, tetapi juga tokoh dari bidang sosial, pendidikan, hak buruh, agama dan pemerintahan. Dengan demikian, penghargaan ini merefleksikan bahwa perjuangan untuk Indonesia bersifat multidimensi.
Bagi generasi muda dan masyarakat luas, pengakuan ini menjadi pengingat penting bahwa kontribusi terhadap negara dapat dari mana saja—baik sebagai aktivis buruh, ulama, atau pemimpin daerah. Nilai‐nilai keberanian, keadilan, pengabdian dan kepemimpinan yang tertanam dalam figur-figur ini harus kita teruskan.













