Sejarah Polwan : Dari Bukittinggi hingga Jenderal Jeanne Mandagi

Berita801 Dilihat

Magetan, Berita Nusantara 89. Polwan, atau Polisi Wanita, memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa awal republik ini. Awal terbentuknya kesatuan tersebut berawal pada 1 September 1948, ketika enam perempuan — Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher — secara resmi menjalani pendidikan inspektur polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi. Mereka bergabung bersama 44 siswa laki-laki dan membuka jalan bagi kiprah perempuan dalam dunia kepolisian.

Polwan Pertama Indonesia

Namun, pendidikan itu sempat terhenti tepat pada 19 Desember 1948 karena Agresi Militer Belanda II. Setelah kemerdekaan, keenam calon ini kemudian kembali melanjutkan pendidikan di SPN Sukabumi pada 19 Juli 1950. Mereka mendapatkan pelatihan menyeluruh — mulai dari ilmu kepolisian hingga bela diri seperti judo, jiu-jitsu, dan anggar. Pada 1 Mei 1951, mereka resmi menyelesaikan pendidikan dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta, khusus menangani kasus perempuan, anak-anak, serta pelanggaran sosial seperti perdagangan perempuan dan anak.

Pendidikan Pertama di SPN Sukabumi, 1950
Lulusan Pertama, 1951

Seiring perkembangannya, integrasi pendidikan perempuan dalam jalur yang sama dengan laki-laki mulai terjadi pada era 1965. Polisi wanita yang ingin menjadi perwira kini mengikuti seleksi melalui jalur karier seperti SEPAMILWA. Sementara itu, pendidikan bintara lebih terarah sejak tahun 1975, ketika Dodiklat 007 di Ciputat membuka kelas khusus. Pada 1982, lembaga ini berkembang menjadi Pusdikpolwan, dan dua tahun kemudian berubah menjadi Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan), yang secara signifikan meningkatkan minat perempuan untuk bergabung.

Jeanne Mangi, Jenderal Pertama Polwan

Pada 29 November 1986, Polri menetapkan lambang resmi Polwan. Logo tersebut menggambarkan sifat kewanitaan melalui bunga matahari, nilai hidup Tribrata dan Catur Prasetya melalui tujuh dan empat helai bunga, serta simbol perisai dan obor yang menggambarkan semangat pengabdian. Tiga bintang emas melambangkan pedoman hidup Tribrata, sedangkan angka “1948” menegaskan tahun kelahiran. Di bawah logo tersebut tertulis motto “Esthi Bhakti Warapsari”, yang mencerminkan pengabdian luhur demi tercapainya masyarakat sejahtera dan harmonis.

Jeanne Mandagi, Jenderal Polisi Wanita Pertama

Peran perempuan dalam kepolisian terus berkembang. Pada 1987, Lettu Pol. Dwi Gusiyati menjadi yang pertama yang menjabat Kapolsek. Lalu, di 1991, Brigadir Jenderal Jeanne Mandagi menjadi Polwan pertama yang mencapai pangkat jenderal bintang satu. Tidak hanya itu, peringatan Hari Polwan juga dengan pembangunan Monumen Polwan di Bukittinggi pada 1993 sebagai wujud penghormatan historis terhadap korps ini.

Monumen Polisi Wanita, Bukittinggi

Pada era 2000-an, Pendidikan perwira buka kembali melalui Akpol, dan peluang menjabat jabatan strategis mulai terbuka lebih lebar. Sejak itu, kontribusinya kian nyata dalam tugas operasional dan pelayanan publik.

Pada 2015, Monumen Polwan mengalami renovasi besar dan kembali resmi bertepatan dengan Hari Jadi Polwan ke-67.