Jakarta, Berita Nusantara 89. Keputusan mengejutkan datang dari jajaran Syuriyah PBNU yang secara resmi meminta Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan ini melalui Rapat Harian Syuriyah di Jakarta oleh mayoritas pengurus.
Dalam risalah rapat yang beredar, Syuriyah menyampaikan sejumlah alasan yang menjadi dasar kuat untuk meminta Gus Yahya melepaskan jabatannya. Salah satu hal yang paling tersorot adalah terkait kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU yang menghadirkan narasumber dengan jaringan yang bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah Wal Jamaah. Syuriyah menilai hal tersebut tidak sesuai dengan nilai dasar organisasi dan perlu evaluasi secara menyeluruh.
Syuriyah PBNU : Dugaan Persoalan Tata Kelola Keuangan
Di samping itu, Syuriyah juga menyoroti dugaan persoalan tata kelola keuangan dalam internal PBNU. Dalam rapat terdapat indikasi pengelolaan dana yang tidak sesuai dengan prinsip syariah serta tidak berjalan sebagaimana mestinya menurut peraturan organisasi. Temuan ini menambah panjang daftar alasan mengapa Syuriyah meminta Gus Yahya mengundurkan diri secara sukarela.
Syuriyah bahkan memberikan tenggat waktu tiga hari kepada Gus Yahya. Apabila tidak memenuhi permintaan ini, Syuriyah menyatakan siap mengambil langkah tegas untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU tersebut. Sikap tegas Syuriyah ini menjadi perhatian publik dan memicu perbincangan luas, baik di internal NU maupun di masyarakat umum.
“Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mundur, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.” kata Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ahyar.
Menariknya, desakan mundur terhadap Gus Yahya justru melahirkan gelombang dukungan dari sejumlah kelompok masyarakat. Banyak pihak menilai langkah Syuriyah PBNU adalah bentuk kepedulian demi menjaga marwah organisasi. Melalui media sosial, warganet menyampaikan apresiasi terhadap sikap tegas Syuriyah PBNU dan berharap langkah ini dapat mengembalikan keteladanan NU sebagai organisasi yang menjunjung moral, transparansi, dan tata kelola yang baik.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan kepada Gus Yahya. Ia sebagai figur modernis yang membawa NU ke panggung internasional dan membuka ruang kerja sama global. Beberapa kalangan menilai keputusan Syuriyah terlalu tergesa-gesa dan kurang memberikan ruang dialog terbuka.
Gus Yahya : Tidak Akan Mundur, Keputusan Hanya Sepihak !!!
Menanggapi desakan tersebut, Gus Yahya secara tegas menyatakan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri. Ia menilai keputusan Syuriyah PBNU secara sepihak dan tidak memberikan kesempatan baginya untuk menjelaskan duduk perkara secara menyeluruh. Menurutnya, beberapa tuduhan atau alasan yang dalam risalah masih bersifat interpretatif dan belum melalui proses klarifikasi yang adil.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa apa yang ia lakukan selama memimpin PBNU selalu berdasarkan prinsip keterbukaan dan pengembangan organisasi. Ia menyebut bahwa dinamika yang muncul saat ini seharusnya selesai melalui musyawarah mendalam, bukan keputusan yang bersifat ultimatum.
Di tengah memanasnya situasi ini, Sekretaris Jenderal PBNU menyerukan agar seluruh warga NU tetap tenang. Menurutnya, dinamika internal merupakan hal biasa dalam organisasi besar, namun yang terpenting adalah menjaga ukhuwah dan mencegah perpecahan.
Hingga saat ini, belum ada keputusan final mengenai apakah Syuriyah akan benar-benar memberhentikan Gus Yahya dari jabatannya. Namun, polemik ini akan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah NU, mengingat besarnya pengaruh ketua umum dan peran strategis PBNU dalam kehidupan sosial, keagamaan, hingga kebangsaan.
Dinamika ini juga memunculkan spekulasi kemungkinan forum permusyawaratan besar untuk menentukan arah organisasi ke depan. Banyak pihak menilai bahwa langkah konsolidasi agar NU dapat kembali menjadi kekuatan moral yang solid di tengah perubahan sosial yang cepat.











