Como, Klub Kejutan Serie A Milik Djarum Group

Dari Serie B ke papan Zona Eropa

Berita5641 Dilihat

Jakarta, Berita Nusantara 89. Como 1907, tahun sebelumnya masih asing ditelinga pecinta sepakbola tanah air. Ya, mereka masih ada di kasta kedua liga Italia tahun itu, dan berhasil promosi ke Serie A musim awal musim ini.

Bahkan pada 2019, Como 1907 sedang mengalami kebangkrutan dan bermain di divisi terbawah Liga Italia, yaitu Serie D.

Kemudian datanglah Grup Djarum dari Indonesia yang meembeli murah dan melunasi hutang klub saat itu. Dengan dukungan Grup Djarum, Como mulai berbenah memperbaiki struktur manajemen dan memilih pemain-pemain yang sesuai dengan karakter dan strategi klub.

Selanjutnya kini, Como membangun fondasi, merangkak pelan ke tangga tertinggi di Serie A dan kini menembus kompetisi antar klub Eropa untuk musim depan.

Dengan jalan kesabaran ini, fondasi klub semakin kuat dan membawa stabilitas dan kesuksesan besar.

Beberapa Kali Bangrut Sebelum Akuisisi oleh Grup Djarum

Como sendiri berdiri sejak 1907, sesuai dengan namanya. Sejak berdiri, klub ini belum memilki prestasi prestisius di Italia maupun Eropa. Klub ini bertahan di kasta tertinggi saat itu (Prima Categoria) pada 1913 dan kemudain terdegradasi pada 1922. Como kemudian bangkit ke divisi utama pada 1930 dan berhasil beberapa tahun bertahan.

Hingga dekade 2000an, klub mengalami degradasi beruntun yang kemudian berujung pada kebangkrutan. Saat itu, federasi sepakbola Italia menjatuhkan larangan tampil di sepakbola profesional sejak tahun 2004.

Langkah panjang Como hingga berhasil kembali ke Serie C2 pada tahun 2007, namun kembali bangkrut tahun 2016. Setahun berselang, dengan kondisi bangkrut berhasil masuk ke Serie D, kasta terendah liga Italia.

Grup Djarum kemudian membeli klub sepak bola Como 1907 pada tahun 2019 dengan biaya akuisisi sangat murah. Djarum hanya mengeluarkan 850 ribu euro atau 7.5 miliar rupiah dan 150 ribu euro untuk melunasi hutang klub. Total nilai akuisisi keseluruhan hanya sekitar 10 miliar rupiah.

Proyek Ambisius Djarum : Dari Kebangkrutan Menuju Eropa

Akuisisi ini menentukan arah transformasi klub ke depan. Manajemen tidak mengambil pendekatan instan dengan belanja pemain besar-besaran demi promosi cepat. Mereka memilih membangun ulang fondasi klub secara menyeluruh.

Menunjuk Mirwan Suwarso sebagai perwakilan manajemen memimpin perubahan dan menjembatani visi pemilik dengan realitas lapangan. Fakta tiga kali kebangkrutan dalam satu dekade membuat tidak ada kepercayaan pada klub. Sehingga kemudian memulai strategi membangun ulang kredibilitas klub melalui manusianya.

Mereka melakukan inovasi dan revitalisasi di luar lapangan sebagai fondasi awal. Bahkan saat pandemi, klub membayar vaksinasi lokal, merevitalisasi toko dan memulihkan keepercayaan melalui grass root. Selanjutnya menggaet kemitraan ritel hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Hingga kemudian langkah strategis mendatangkan pelatih baru, Cesc Fabregas yang merupakan mantan bintang Arsenal dan Barcelona.

Merek Global, Bukan Sekedar Sepakbola

Arah transformasi klub bukan sekedar Como menang dalam setiap pertandingan. Como melakukan rebranding, mendefiniskan hal apa yang akan membuat mereka terkenal lalu memberikan eksposur lebih.

Mirwan Suroso menjelaskan bahwa sepakbola memiliki maghnet lintas batas, sehingga mereka menciptakan merek global melalui sepakbola. Filosofinya jelas, sepakbola akan menggerakkan sekitarnya.

Stadion Como di tepi Danau nan Indah
Stadion Como di tepi Danau nan Indah

Idenya adalah dengan menekan ego dan mengembangkan danau Como menjadi destinasi utama wisata sebagai fondasi. Mengingat Como merupakan kota kecil di utara Italia yang hanya memiliki populasi 84 ribu juwa dengan luas hanya 34 km persegi. Bahkan 17-18 kali luas Jakarta (661 km persegi), atau hanya beda sedikit dengan Jakarta Pusat (47 km persegi).

Adalah, tidak mungkin klub dapat bertahan apabila hanya mengandalkan warga lokal karena penduduk kotanya sendiri yang sedikit. Sehingga untuk memajukan klub, harus mendatangkan traffic manusia ke kota Como.

Manajemen ikut mengkampanyekan destinasi wisata sepakbola premium, menjadikan life style terkait klub melibatkan influencer sosial media. Dan hasilnya danau Como mampu mendatangkan lima juta wisatawan setiap tahunnya, meningkat lima kali lipat.

Revolusi ala Moneyball Menembus Pasar Global

Istilah moneyball pertama kali populer oleh Billy Beane tahun 2002. Beane melakukan pendekatan manajemen dan rekrutmen pemain bisbol untuk Oakland Athletics melalui analisis data dan statistik.

Selanjutnya Como melakukan investasi besar-besaran dengan pendekatan moneyball (data dan analisis). Klub memadukan insting dan mengidentifikasi bakat melalui data statistik dan memberikan mereka ruang untuk berkembang.

Dengan revolusi ala moneyball ini, manajemen berhasil meningkatkan performa tim di lapangan. Pemilihan pemain dengan statistik tertentu sesuai kebutuhan berhasil mengerek klub promosi ke kasta lebih tinggi.

Selanjutnya di musim 2022/2023, Cesc Fabregas bermain untuk Como selama semusim. Kemudian Fabregas menjadi pelatih interim musim berikutnya dan menjadi pelatih utama sejak Juli 2024. Setahun selanjutnya, Fabregas berhasil membawa klub promosi ke Serie A dan kini menembus kompetisi antarklub Eropa.

Pengembangan Ekosistem Merek Como 1907

Manajemen juga mengembangkan sistem tiketing berbasis blokchain yang memungkinkan mencetak NFT untuk pembelian tiket. Hal ini karena sepakbola Italia terkenal dengan praktek percaloan tiket.

Hasilnya, sistem ini mampu menarik wisatawan untuk menonton bola sembari berwisata dengan perencaan beberapa bulan sebelumnya. Sebuah penyelesaian masalah yang sempurna mencegah sistem konvensional yang rawan percaloan.

Klub ini mengkombinasikan investasi berbasis data dengan tetap melibatkan faktor manusia. Fondasi manajemen berkembang, performa tim meningkat dengan basis statistik data. Selanjutnya, Como membangun ekosistem brand Como 1907, termasuk bidang fashion, media, merchandise dan pendidikan.

Pengembangan ekosistem merek ini memperkuat identitas intinya sebagai merek premium berbasis lokal. Klub tidak sekedar menjual produk, tetapi memberikan nilai dan persepsi kepada produk dan layanannya.

Dalam laman resmi klub, kombinasi wisata dan sepakbola menjadi paket menarik untuk wisatawan. Dengan layanan dan panduan yang detail mereka memberikan pelayanan terbaik untuk wisatawan, termasuk pemesanan paket secara online.

Como : Bukan Sekedar Kekuatan Finansial

Kejutan Como di Serie A musim ini mendatangkan pendapat negatif, dukungan kekuatan finansial pemilik linier dengan performa dan keberhasilan klub.

Namun Fabregas menegaskan bahwa jika klub mengandalkan kekuatan uang, seharusnya pemainnya akan ada di daftar pemain dengan gaji besar di Serie A. Namun faktanya total gaji pemain Como lebih rendah berbanding dengan klub lain.

Data dari Calciomercato, total gaji pemain Como hanya 47,8 juta euro. Angka yang jauh lebih rendah dari Inteer (141.5 juta), Juventus (123 juta), Napoli (110 juta), Roma (107 juta) dan Milan (104 juta).

Como berhasil bertransformasi perlahan dengan memperkuat dasar manajemen dan klub. Dengan pengambilan langkah berani, namun berbasis data, merubah model bisnis sepakbola secara ekstrem. Manajemen berhasil menyentuh dan mengembangkan ekosistem dan komunitas memanfaatkan kekuatan menjadi peluang.

Mereka membangun komunitas dengan nilai baru dan membentuk identitas. Keseimbangan seluruh sistem yang konsistem dan kompak membangun arah dalam satu kesatuan.

Perjalanan panjang membangun fondasi klub, berhasil bertransformasi dan meningkatkan kepercayaan terhadap klub melalui aksi nyata di komunitas lokal. Dan dengan peran pimpinan dengan blueprint visi dan misi jelas, mampu menakhodai manajemen klub. Kombinasi data dan nilai memberikan eksekusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan klub.

Hari ini, Como telah mencetak sejarah menembus kompetisi antar klub Eropa. Mereka juga masih memiliki peluang bermain di Liga Champions musim depan.

Sejauh apa tim ini akan melangkah ? Sekuat apa identitas merek yang mereka kembangkan ?

Tinggalkan Balasan