Surabaya, Berita Nusantara 89. Insiden Hotel Yamato menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa yang juga sebagai Peristiwa Tunjungan itu terjadi di Surabaya pada 19 September 1945, sekitar satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Insiden tersebut terpicu oleh pengibaran bendera Belanda berwarna merah, putih, dan biru di Hotel Yamato. Rakyat Surabaya kemudian melakukan aksi heroik dengan merobek bagian biru sehingga tersisa warna merah dan putih.
Peristiwa itu berlangsung ketika situasi Surabaya mulai memanas setelah kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda.
Penyebab Insiden Hotel Yamato
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia menyerukan pengibaran Sang Saka Merah Putih di berbagai wilayah.
Ketegangan meningkat ketika pasukan Inggris dan Belanda mulai tiba di Surabaya. Pada 18 September 1945, pasukan Sekutu dan Belanda dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) tiba di kota tersebut.
Hotel Yamato di Jalan Tunjungan 65 kemudian sebagai salah satu tempat aktivitas mereka. Sehari kemudian, sekelompok orang Belanda pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera merah, putih, dan biru di bagian atas hotel.
Pengibaran bendera tersebut memicu kemarahan masyarakat Surabaya karena tanpa persetujuan pemerintah Republik Indonesia.
Residen Soedirman Datangi Ploegman
Residen Soedirman kemudian mendatangi Hotel Yamato untuk meminta agar menurunkan bendera tersebut. Ia berusaha menemui Ploegman dan membicarakan persoalan tersebut. Soedirman berharap persoalan bendera dapat terselesaikan tanpa menimbulkan keributan.
Namun, pembicaraan berlangsung tegang. Ploegman menolak mengakui kedaulatan Indonesia dan tidak bersedia menurunkan bendera Belanda.
Situasi semakin buruk ketika Ploegman mengeluarkan pistol. Perkelahian antara kedua pihak pun tidak dapat terhindar.
Dalam keributan tersebut, Ploegman meninggal oleh Sidik, salah satu pengawal Soedirman. Sidik kemudian tewas setelah terlibat bentrokan dengan tentara Belanda yang berada di lokasi.
Residen Soedirman bersama pengawal lainnya berhasil keluar dari hotel untuk menghindari situasi yang semakin berbahaya.
Perobekan Bendera Belanda
Di tengah situasi tersebut, Hariyono yang sebelumnya bersama Residen Soedirman kembali memasuki Hotel Yamato.
Ia bersama Kusno Wibowo kemudian menuju bagian atas hotel tempat bendera Belanda.
Keduanya menurunkan bendera merah, putih, dan biru tersebut. Selanjutnya merobek bagian berwarna biru sehingga tersisa warna merah dan putih.
Bendera yang telah berubah menjadi Merah Putih kemudian berkibar kembali. Aksi tersebut menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya terhadap upaya mempertahankan pengaruh Belanda setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Karena itulah Insiden Hotel Yamato juga sebagai peristiwa perobekan bendera Belanda di Surabaya.
Insiden Yamato dan Pertempuran Surabaya
Insiden Hotel Yamato ikut memperburuk situasi keamanan di Surabaya.
Ketegangan antara rakyat Indonesia dengan pasukan Sekutu dan Belanda terus meningkat. Berbagai gesekan kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata.
Beberapa pihak mengaitkan Insiden Hotel Yamato sebagai salah satu rangkaian peristiwa yang mengarah pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Pertempuran tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu perlawanan terbesar rakyat Indonesia pada masa awal Revolusi Kemerdekaan.
Tanggal 10 November selanjutnya diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.
Tokoh Insiden Hotel Yamato
Sejumlah tokoh terlibat dalam Insiden Hotel Yamato dari pihak Indonesia maupun Belanda.
Dari pihak Indonesia, tokoh yang disebut dalam peristiwa tersebut antara lain Residen Soedirman, Sidik, Hariyono, dan Kusno Wibowo.
Sementara dari pihak Belanda, Mr. W.V.Ch. Ploegman menjadi salah satu tokoh yang terlibat dalam ketegangan di Hotel Yamato.
Insiden Hotel Yamato pada 19 September 1945 dikenang karena aksi perobekan bendera Belanda hingga menyisakan warna Merah Putih. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.















