Jakarta, Berita Nusantara 89. Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Indonesia ini bahkan sempat menyentuh level Rp17.728 per dolar AS dalam perdagangan terbaru di pasar keuangan, Selasa (19/5/2026). Rupiah melemah 60 poin pada pukul 11.00 dari penutupan hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah karena sejumlah faktor global, termasuk penguatan dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi internasional. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar.
Biang Kerok Melemahnya Rupiah
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, faktor terbesar melemahnya adalah dari meningkatnya ketegangan AS dan Iran. Konflik ini menyebabkan selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia terganggu.
Secara global, ini mengganggu pasokan minyak sehigga mendorong lonjakan minyak global.
“Kenaikan minyak cukup signifikan, indeks dolar juga menguat. Dampaknya, kebutuhan dolar Indonesia meningkat karena masih impor 1.5 juta barel minyak per hari,” ujarnya.
Praktisi pasar modal Ariston Tjendra juga mengungkapkan hal senada. Konflik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak global dan inflasi di AS.
“Euforia konflilk Timur Tengah merembet kemana-mana. Minyak mentah naik dan inflasi,” ujarnya.
Praktisi pasar modal, Hans Kwee menambahkan adanya kenaikan Yield obligasi global khususnya US treasury. Kemudian ini mendorong investor global memindahkan modal ke instrumen keuangan AS.
“Yiel US Trasury naik berlebihan, investor masuk obligasi AS. Sehingga dolar menguat menekan Rupiah,” jelasnya.
Sentimen Domestik
Selanjutnya, sentimen domestik dengan tingginya harga minyak mengancam defisit APBN. Investor masih akan memiliki kekhawatiran terkait konflik global dan akan keluar dari pasar domestik.
Selain itu, Presiden Prabowo juga sedikit banyak memperdalam anjloknya mata uang Indonesia. Prabowo menanggapi lemahnya rupiah tidak berdampak ke masyarakat desa.
Ini menjadi buah simalakama, pernyataan ini menjadikan investor memborong dolar sehingga Rupiah melemah. Presiden belum memberikan arah dalam menyikapi Rupiah yang melemah.
Pemerintah perlu memberikan kebijakan dan langkah nyata meredam semakin melemahnya nilai tukar.
“Seharusnya pemerintah memberikan solusi impor minyak mentah. Rencana implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil. Juga langkah konkret menghadapi krisis agar rupiah kembali menguat. Itu yang seharusnya,” tandas Ibrahim.













