Antrean BBM di Palembang 10 Jam, Gubernur Turun Langsung

Berita, Daerah325 Dilihat

Palembang, Berita Nusantara 89. Antrean BBM di Palembang kembali terjadi di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut membuat sejumlah sopir truk harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), bahkan ada yang mengaku telah mengantre lebih dari 10 jam.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru turun langsung meninjau kondisi antrean kendaraan di salah satu SPBU kawasan Simpang Bandara Palembang, Selasa (15/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Herman Deru mendengarkan langsung keluhan para pengemudi yang terdampak panjangnya antrean BBM.

Antrean BBM di Palembang Capai Lebih dari 10 Jam

Herman Deru mengaku prihatin melihat para sopir truk harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU hanya untuk mendapatkan BBM.

Menurutnya, sejumlah pengemudi bahkan sudah berada dalam antrean sejak malam hari. Kondisi tersebut merugikan karena waktu yang seharusnya untuk menjalankan aktivitas angkutan justru habis untuk menunggu pengisian bahan bakar.

“Mereka ini antre bisa lebih dari 10 jam. Kasihan para sopir,” kata Herman Deru.

Ia menyebut menerima keluhan dari sejumlah sopir truk yang mengaku telah menunggu sejak malam. Ada pengemudi yang mulai mengantre sekitar pukul 19.00, sementara lainnya sudah berada di SPBU sejak pukul 23.00.

“Para sopir truk sempat mengeluh dari jam 7 malam, habis. Ada yang antre dari jam 11 malam,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat persoalan antrean BBM di Palembang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar kendaraan. Aktivitas ekonomi dan distribusi barang juga ikut terdampak ketika kendaraan angkutan tidak dapat segera beroperasi.

Antrean BBM di Palembang : Gubernur Pertanyakan Pasokan BBM

Herman Deru mempertanyakan mengapa antrean panjang kembali terjadi setelah kondisi pasokan BBM sebelumnya sempat membaik.

Menurutnya, perlu penelusuran persoalan tersebut segera untuk mengetahui penyebab gangguan pasokan maupun distribusi yang terjadi di lapangan.

“Kemarin sudah sempat bagus, kan kenapa hari ini jelek lagi,” katanya.

Herman Deru menduga antrean panjang terjadi akibat stok BBM di sejumlah SPBU sempat kosong. Ketika pasokan kembali tersedia, kendaraan yang sebelumnya tertahan kemudian menumpuk sehingga antrean menjadi semakin panjang.

“Numpuk ini karena sempat kosong,” ungkapnya.

Gubernur Sumsel tersebut juga menyoroti ketersediaan Pertalite dan Bio Solar. Ia menilai kedua jenis BBM tersebut seharusnya dapat segera tersedia di SPBU sehingga kebutuhan kendaraan, khususnya angkutan barang, tidak terganggu.

Kelangkaan Pasokan BBM Ganggu Distribusi

Bagi kendaraan angkutan barang, BBM merupakan salah satu kebutuhan utama untuk mendukung operasional. Gangguan pasokan dapat membuat kendaraan tertahan dan pada akhirnya berdampak terhadap distribusi barang.

Herman Deru menegaskan perlu penanganan segera persoalan antrean BBM karena waktu tunggu yang terlalu lama dapat mengurangi produktivitas para sopir.

“BBM menjadi faktor penting karena bahan bakar merupakan penunjang utama aktivitas angkutan. Ketika pasokan tersendat, waktu operasional mereka ikut terdampak,” ujarnya.

Menurutnya, kelancaran distribusi BBM bukan hanya menyangkut kepentingan pengendara yang membutuhkan bahan bakar. Ketersediaan BBM juga memiliki kaitan dengan kelancaran kegiatan transportasi dan distribusi barang di Sumatera Selatan.

Karena itu, Herman Deru meminta normalisasi pasokan BBM agar antrean kendaraan di sejumlah SPBU Palembang dapat terurai.

Pemerintah daerah berharap persoalan pasokan dan distribusi BBM dapat segera diselesaikan sehingga para sopir angkutan tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU.

Herman Deru menekankan pentingnya memastikan ketersediaan BBM, terutama Pertalite dan Bio Solar, agar aktivitas transportasi dapat berjalan normal.

Antrean BBM di Palembang yang kembali terjadi menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengendara, tetapi juga para pelaku angkutan dan distribusi barang. Pemerintah pun mendorong agar penyebab gangguan pasokan segera ditemukan sehingga kejadian serupa tidak terus berulang.

Tinggalkan Balasan