Jakarta, Berita Nusantara 89. Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan menu berbahan telur. Langkah tersebut guna membantu menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak sekaligus mendukung program pemenuhan gizi masyarakat.
Kebijakan itu muncul setelah harga telur ayam ras di sejumlah daerah mengalami penurunan. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan bahwa pihaknya telah menginstruksikan hal ini. BGN berharap ini akan berdampak pada pendapatan peternak lokal. Karena itu, BGN mendorong peningkatan penyerapan telur melalui program makanan bergizi.
BGN Merespon Aksi Protes Peternak Telur Di Magetan
Sebelumnya, pada Rabu (6/5), sejumlah peternak ayam petelur di Magetan menggelar aksi damai di. Dalam aksi tersebut, para peternak membagikan sekitar tiga ton telur secara gratis kepada masyarakat sebagai simbol protes terhadap anjloknya harga telur.
Para peternak protes harga telur di kandang Rp22 ribu hingga Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram. Mereka juga menyoroti tingginya harga pakan dan over produksi sehingga penyerapan telur tidak maksimal.

“Kami telah instruksikan upaya penyerapan produk peternak lokal untuk merespons aksi portes peternak di Magetan. Aksi protes damai mereka akibat anjloknya harga di tingkat peternak,” ungkap Nanik.
Selanjutnya, telah ada koordinasi bersama satgas MBG di Magetan untuk meningkatkan penggunaan menu telur di SPPG sebanyak 2-3 kali seminggu.
Ia menambahkan, selama ini SPPG di Kabupaten Magetan telah menggunakan pasokan telur dari peternak lokal. Lebih jauh tidak mengambil suplai dari luar daerah agar mampu membantu perputaran ekonomi masyarakat setempat.
BGN meminta SPPG di Jawa Timur memperbanyak sajian berbahan telur dalam pelaksanaan program makan bergizi. Upaya tersebut akan mampu meningkatkan permintaan pasar sehingga harga telur tetap stabil.
Selain mudah, telur juga memiliki kandungan protein tinggi dan cocok menjadi menu utama untuk mendukung kebutuhan nutrisi masyarakat. Dengan optimalisasi penggunaan telur, program pemenuhan gizi agar berjalan lebih efektif.
Kebijakan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap peternak unggas lokal. Pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi masyarakat dan keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Dukung Ketahanan Pangan dan Gizi
Optimalisasi menu telur tidak hanya bertujuan menjaga harga pasar. Program ini juga mendukung ketahanan pangan serta peningkatan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat memberi manfaat ganda, baik untuk masyarakat penerima program gizi maupun bagi peternak lokal di Jawa Timur. Selain membantu menjaga kestabilan harga, langkah itu juga memperkuat sektor peternakan daerah.
Ke depan, koordinasi antara pemerintah, penyedia layanan gizi, dan peternak semakin kuat agar program berjalan berkelanjutan dan mampu memberikan dampak ekonomi positif.














