Magetan, Berita Nusantara 89. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Magetan mendapat sorotan dari kalangan peternak ayam petelur. Para peternak melakukan aksi protes dengan membagikan tiga ton telur gratis kepada masyarakat. Aksi ini menjadi bentuk protes agar program MBG dapat menyerap produk telur lokal secara optimal.
Kebijakan itu agar mampu meningkatkan penyerapan hasil produksi telur lokal sekaligus mendukung kesejahteraan peternak di Magetan. Selama ini, para peternak menilai penggunaan telur dalam program MBG masih terlalu sedikit sehingga belum berdampak signifikan terhadap pasar telur daerah.
Peternak Minta MBG Serap Telur Lokal
Sejumlah peternak ayam petelur di Magetan sebelumnya menyampaikan keluhan terkait minimnya penggunaan telur dalam menu MBG. Mereka berharap pemerintah lebih memprioritaskan bahan pangan lokal agar program tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain itu, peternak menilai produksi telur di Magetan cukup melimpah dan mampu memenuhi kebutuhan program makanan bergizi di sekolah-sekolah. Karena itu, mereka meminta adanya penambahan porsi menu berbahan dasar telur.
Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan memiliki kandungan gizi tinggi. Karena itu, penambahan menu telur dinilai dapat mendukung kebutuhan nutrisi anak-anak sekolah.

Respon Pemerintah Terkait Aksi Protes Peternak Telur
Menanggapi protes tersebut, pemerintah berencana menambah menu telur dalam paket MBG menjadi tiga kali dalam sepekan. Hal ini menjadi kesepatakan dalam rapat koordinasi sektor pangan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Satgas MGB Magetan, Awang Arifani,, menjelaskan Pemerintah daerah merespons aspirasi tersebut dengan menyiapkan evaluasi menu MBG. Salah satu opsi adalah menambah frekuensi penyajian telur menjadi tiga kali setiap minggu.
“Selama ini ada yang sekali dan dua kali menu telur dalam seminggu. Kemudian tadi kesepakatannya tambah sekali, bisa sampai tiga kali seminggu,” ujarnya, Kamis (7/8/2026).
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar. Melalui program ini, siswa mendapatkan makanan dengan kandungan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang seimbang.
Di sisi lain, langkah tersebut juga akan mampu menjaga stabilitas harga telur di tingkat bawah. Dengan adanya penyerapan hasil produksi lokal, perputaran ekonomi masyarakat di sektor peternakan ikut meningkat.
Serapan Telur dari Peternak Lokal
Selanjutnya, penambahan frekuensi menu ini akan memberikan peningkatan serapan telur lokal. Saat ini ada 65 SPPG yang aktif dan beroperasi di Magetan. Dengan rataan SPPG memasak 2500 porsi setiap hari tentunya akan meningkatkan serapan telur lokal.
Kemudian pemerintah daerah juga akan menyiapkan mekanisme lain untuk membantu peternak kecil. Salah satunya dengan mendorong ASN membeli telur lokal minimal satu kilo per orang. ” Prioritas juga membantu peternak kecil dengan populasi 20 ribu ekor ke bawah,” ungkapnya.
Lebih jauh, hal ini muncul setalah merosotnya harga telur di bawah Harga Acuan Pembelian sebesar 26.500 per kilogram. Saat ini kondisi di lapangan, harga telur berkisa 22 ribu per kilogram.
Kondisi ini bukan hanya terjadi di Magetan saja, tetapi juga nasional. Di sisi lain, harga pakan juga masih tinggi sehingga masih banyak peternak mengalami kerugian.
Jagung Murah Untuk Pakan
Menurut Awang, pemerintah juga memberikan bantuan jagung murah untuk peternak kecil. Dengan prediksi serapan telur yang meningkat, tentu saja peternak juga harus ikut menikmati. Lebih jauh, pemda telah menggandeng Bulog untuk akses jagung dengan harga 5 ribu per kilogram.
“Bagian dari upata agar peternak bertahan dengan harga telur yang rendah,” pungkas Awang.
Dalam hal ini, Magetan akan memperoleh kuota 7 ribu ton jagung dengan mekanisme penyaluran melalui koperasi dan dinas terkait.


















