Nusakambangan, Berita Nusantara 89. Program budidaya sidat Nusakambangan menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kegiatan di Pulau Nusakambangan, tersebut membuka peluang kerja baru sekaligus menggerakkan berbagai sektor usaha yang sebelumnya kurang berkembang.
Melalui program ketahanan pangan sektor perikanan, kawasan yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan mulai bertransformasi menjadi pusat kegiatan produktif. Selain memberikan keterampilan kepada warga binaan, program ini turut menciptakan efek ekonomi berantai bagi nelayan, pelaku usaha kecil, hingga pekerja lokal.
Lebih jauh, program gagasan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, ini merupakan bagian dari dukungan terhadap visi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya untuk swasembada pangan. Di Nusakambangan, lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif berubah menjadi kawasan budidaya yang melibatkan langsung Warga Binaan, sekaligus merangkul masyarakat lokal sebagai mitra.
Lapas Nusakambangan : Membuka Lapangan Kerja Baru
Aktivitas budidaya sidat mencakup berbagai tahapan, mulai dari pembangunan kolam, pengelolaan pakan, hingga perawatan bibit sampai masa panen. Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan banyak pihak dan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.
Salah satu penerima manfaat adalah para penjahit waring atau jaring tambak. Kehadiran proyek budidaya sidat membuat permintaan jasa mereka meningkat sehingga mampu menambah penghasilan keluarga.
Komarudin, penjahit waring asal Cilacap, mengaku program tersebut memberikan peluang kerja yang sangat berarti bagi dirinya.
“Sangat membantu masyarakat pelaku usaha bahari seperti saya. Jadi bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga. Saya berharap program ini terus berlanjut agar masyarakat tetap memperoleh kesempatan kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Jasman yang juga bekerja sebagai penjahit waring merasakan manfaat serupa. Sebelum proyek berjalan, ia kerap kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap.
“Biasanya di rumah tidak ada pekerjaan. Sekarang ada aktivitas yang bisa dilakukan untuk mencari nafkah bagi keluarga,” katanya.

Pelatihan Untuk Warga Binaan
Selain memberikan dampak ekonomi, program ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Mereka mendapatkan pelatihan praktis mengenai pengelolaan budidaya sidat, mulai dari pemeliharaan hingga pengawasan kualitas produksi.
Saat ini, kegiatan operasional melibatkan puluhan warga binaan dari lembaga pemasyarakatan berstatus minimum security di Nusakambangan. Mereka memperoleh pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat.
Bagi warga binaan, budidaya sidat menjadi ruang belajar yang nyata. Falda, Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Nusakambangan, mengaku bersyukur dapat terlibat dalam kegiatan ini.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Menteri karena sudah teerlibat dalam budidaya sidat ini, dan saya mendapatkan cukup ilmu untuk bekal saya nanti pas kembali di masyarakat,” ujar Falda.
Manfaat itu terus terasa bahkan setelah masa pidana selesai. Sairan, mantan Warga Binaan Lapas Nusakambangan, memilih melanjutkan pekerjaannya di kolam sidat usai bebas. Selain memperoleh keterampilan, ia kini menerima gaji pokok untuk menghidupi keluarganya.
“Saya bisa mendapatkan ilmu bagaimana cara membudidayakan sidat ini, dan saya mendapatkan gaji pokok untuk menghidupi keluarga saya di rumah,” tuturnya.
Program budidaya sidat Nusakambangan menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga binaan, nelayan, tenaga kerja lokal, dan berbagai pihak terkait, program ini membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Ke depan, budidaya sidat Nusakambangan diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Cilacap dan sekitarnya.


















