Buku Islam ala Prabowo, Catut Nama TGB dan Gus Kautsar ?

Berita527 Dilihat

Magetan, Berita Nusantara 89. Polemik buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam tengah menjadi perhatian publik. Sorotan muncul setelah nama dua tokoh agama, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi dan KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar sebagai kontributor.

Persoalan tersebut mencuat setelah kedua tokoh itu melalui pihak masing-masing menyatakan tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai proses penyusunan dan pencantuman nama para kontributor.

Buku Islam Ala Prabowo, TGB Tegaskan Tidak Pernah Kirim Tulisan

TGB Muhammad Zainul Majdi memberikan klarifikasi terkait namanya yang tercantum dalam buku Islam Ala Prabowo.

Ketua Umum PB Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) tersebut secara tegas membantah pernah menyerahkan naskah artikel untuk buku yang membahas sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto.

“Saya tidak pernah kirim tulisan,” tegas TGB ketika menjawab pertanyaan seorang netizen melalui akun media sosial pribadinya.

Namun, nama TGB tercantum dalam halaman 241 buku tersebut. Ia sebagai penulis artikel berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan”.

Pernyataan TGB tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang memicu perbincangan mengenai proses pencantuman nama tokoh dalam buku tersebut.

Konfirmasi TGB terkait namanya di Buku Islam ala Prabowo
Konfirmasi TGB terkait namanya di Buku Islam ala Prabowo

Pihak Gus Kautsar Juga Beri Klarifikasi

Persoalan serupa muncul terkait nama KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.

Keluarga pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, menyatakan bahwa Gus Kautsar tidak pernah terlibat dalam pembuatan naskah buku tersebut.

Ning Jazilah Annahdliyah atau Ning Jazil, istri Gus Kautsar, juga mengonfirmasi bahwa suaminya tidak pernah memberikan tulisan maupun izin penggunaan namanya untuk buku itu.

Ia bahkan mempertanyakan bagaimana nama Gus Kautsar dapat tercantum sebagai pihak yang berkontribusi.

“Kok bisa ada nama suami saya?? pdhl gus kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu???!!” tulis Ning Jazil.

Klarifikasi tersebut semakin menambah perhatian publik terhadap polemik Islam Ala Prabowo, khususnya terkait daftar tokoh yang berkontribusi dalam buku.

Buku Islam Ala Prabowo Terbit pada 2025

Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam, penerbit Atmosphere Publishing House dan meluncur di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Sementara penyusun buku tersebut oleh tiga penulis utama, yakni Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.

Materinya menghimpun perspektif sejumlah tokoh nasional, akademisi, ulama, dan pihak lainnya mengenai kepemimpinan serta nilai-nilai spiritual yang terkait dengan Prabowo Subianto.

Sejumlah nama besar juga tercantum dalam rangkaian kontributor buku, di antaranya Prof Yusril Ihza Mahendra, KH Said Aqil Siradj, dan KH Asep Saifuddin Chalim.

Di sisi lain, penggunaan istilah Islam Ala Prabowo pada judul buku juga mendapat kritik. Sebagian pihak menilai frasa tersebut dapat menimbulkan persepsi seolah-olah buku tersebut menawarkan konsep atau bentuk Islam yang baru.

Gus Hilmi Soroti Sisi Keislaman Prabowo

Polemik buku tersebut turut mendapat perhatian pendakwah Hilmi Firdausi atau Gus Hilmi.

Melalui akun X pribadinya pada Sabtu (5/9/2026), Gus Hilmi mengaku penasaran dengan isi buku tersebut. Namun, ia mempertanyakan dasar narasi mengenai praktik keislaman Prabowo.

Gus Hilmi menyebut ia belum pernah mendengar atau melihat secara langsung Prabowo membaca Al-Fatihah maupun Al-Qur’an.

“Jadi pingin baca buku ini, karena seumur hidup saya belum pernah mendengar beliau baca Al Fatihah. Saya juga tidak tahu apa beliau bisa membaca Al-Qur’an dan hafal bacaan-bacaan sholat, soalnya itu basic sekali dalam ajaran Islam,” tulis Gus Hilmi.

Ia kemudian meminta warganet yang memiliki dokumentasi Prabowo membaca Al-Fatihah untuk membagikannya.

“Yang punya videonya boleh share ketika beliau membaca Al Fatihah. Kalau Pak SBY dan Pak Jokowi saya pernah lihat,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut menambah panjang diskusi publik mengenai buku Islam Ala Prabowo, terutama mengenai bagaimana sisi keislaman Presiden dalam karya tersebut.

Gus Maftuh Minta Publik Tidak Terjebak Judul

Di tengah polemik tersebut, KH Mas Muhammad Maftuh atau Gus Maftuh memberikan pandangan berbeda.

Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I) itu meminta masyarakat membaca buku secara utuh sebelum memberikan penilaian.

Menurut Gus Maftuh, istilah Islam Ala Prabowo tidak bermaksud memperkenalkan mazhab, aliran, atau bentuk Islam baru.

“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana pemahaman nilai-nilai Islam dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut membahas dimensi keislaman Prabowo dari berbagai sisi. Pembahasan mencakup kehidupan pribadi, perjalanan karier hingga kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Menurutnya, buku itu juga menghimpun pandangan dari sejumlah tokoh agama, ulama, akademisi, politisi serta tokoh nasional.

Nilai Islam Harus Hadir dalam Kehidupan Berbangsa

Gus Maftuh menilai pembahasan mengenai Islam dalam konteks kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada persoalan simbol.

Menurut dia, nilai seperti perdamaian, keadilan, persatuan dan kepedulian terhadap masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan informasi, meme maupun komentar di media sosial.

“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” ujar Gus Maftuh.

Polemik Buku Islam Ala Prabowo Belum Usai

Keterlibatan sejumlah tokoh nasional menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam buku tersebut. Nama-nama yang disebut antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Prof Dr Abdul Mu’ti, Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, Prof Dr KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar serta Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar.

Namun, persoalan mengenai bantahan TGB dan pihak Gus Kautsar masih menjadi sorotan. Hingga informasi dalam bahan ini disusun, pihak Atmosphere Publishing House maupun tim penulis utama belum memberikan pernyataan resmi terkait klarifikasi tersebut.

Gus Maftuh berharap buku itu tidak dimanfaatkan untuk memperlebar polarisasi politik maupun sentimen keagamaan.

“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” pungkasnya.

Dengan demikian, polemik Islam Ala Prabowo kini tidak hanya berkaitan dengan isi dan judul buku, tetapi juga menyangkut klarifikasi sejumlah tokoh yang namanya tercantum sebagai kontributor. Publik masih menunggu penjelasan dari penerbit dan tim penyusun mengenai proses pencantuman nama tersebut.

Tinggalkan Balasan