Jakarta, Berita Nusantara 89. Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau di Selat Sunda meluas hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Sedikitnya enam provinsi terdampak, sementara warga di beberapa daerah mulai mengeluhkan mata perih, tenggorokan tidak nyaman hingga sesak napas.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua lapisan sebaran abu vulkanik pada Minggu (6/9/2026). Material vulkanik tersebut terbawa angin ke berbagai arah dengan ketinggian yang berbeda.
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
Lapisan pertama terpantau mulai dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki. Abu pada lapisan ini bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, lapisan kedua mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki. Sebaran abu pada ketinggian tersebut bergerak ke arah barat daya dan barat laut.
Wilayah yang terdampak meliputi sebagian Banten dan Lampung, kemudian Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia di sebelah barat.
Ketinggian hingga 50.000 kaki menjadi perhatian karena berada pada jalur yang penting bagi penerbangan internasional.
Warga Lampung Keluhkan Gangguan Pernapasan
Di Lampung, abu vulkanik menyebar hingga Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran dan Tanggamus.
Sejumlah warga mulai merasakan dampaknya. Keluhan yang muncul antara lain mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, hidung terganggu hingga gangguan pernapasan.
Desi, warga Bandar Lampung, mengaku mengalami sesak napas ketika berkendara di luar rumah.
“Tadi terasa seperti ada debu masuk waktu bawa kendaraan. Napas jadi agak sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Mata juga jadi perih,” kata Desi, Sabtu (5/9/2026).
Keluhan serupa oleh Kiki, warga Pesawaran. Ia mengatakan anaknya mengalami mata perih dan hidung tidak nyaman setelah bermain di luar rumah.
“Anak saya mengeluh matanya perih. Hidung juga tidak nyaman dan beberapa kali bersin,” ujarnya.
Pemkot Bandar Lampung kemudian melakukan penyemprotan air di sejumlah jalan protokol yang terdampak abu vulkanik sejak Sabtu (5/9/2026).
“Dengan penyemprotan ini dapat mengurangi debu vulkanik, enggak yang beterbangan dan mengganggu masyarakat maupun pengguna jalan,” kata Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Banten
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau juga warga rasakan di sejumlah wilayah Banten. Hujan abu terlaporkan terjadi di Kabupaten Serang serta beberapa kawasan lainnya.
Sanan, warga Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, mengatakan abu mulai terlihat semakin tebal pada Sabtu sore.
“Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai,” kata Sanan.
Adji Ramadhan juga merasakan dampak abu ketika melintas menggunakan sepeda motor di kawasan Jalan Raya Cilegon-Anyer-Cinangka.
“Perih ke mata pas tadi di jalan bawa motor di sekitar Pasar Anyer. Abunya tipis, tetapi itu bikin sakit ke mata,” ujarnya.
Material abu tersebut sebelumnya terpantau terbawa angin ke arah timur sehingga mencapai kawasan pesisir Banten, termasuk Kabupaten Serang, Pandeglang dan Kota Cilegon.
Bogor Ikut Terdampak Hujan Abu
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau juga mencapai Jawa Barat. Warga di Bogor melaporkan adanya debu yang menempel di rumah maupun kendaraan.
Intan, warga Ciomas, Bogor, mengaku terkejut ketika menemukan lapisan debu cukup tebal di sekitar rumahnya pada Minggu pagi.
“Tebal banget debunya, biasanya enggak begini. Tadi kaget aja pas mau bersih-bersih kok debunya sampe tebal di lantai, di motor juga,” kata Intan.
Pengemudi taksi bernama Budiyanto juga menemukan kendaraannya tertutup debu setelah terparkir sejak malam sebelumnya.
“Memang kebetulan saya sedang di sekitaran kantor pos Juanda, kaget pas bangun pagi kendaraan yang terparkir awal malam tidak berdebu, namun pas bangun tertutup debu. Pas saya cek grup ternyata dampak letusan Gunung Anak Krakatau, jauh juga ya sebarannya,” ujarnya.
Pemerintah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker.
Selain Bogor, abu vulkanik juga dilaporkan mencapai Sukabumi. Waldi, warga Kecamatan Cibadak, mengatakan matanya terasa pedih saat berkendara pada Sabtu malam.
“Saya dari arah RSUD Sekarwangi Cibadak menuju arah kantor Kecamatan Cibadak, tiba-tiba merasakan mata pedih,” kata Waldi.
Menurutnya, rasa pedih tersebut disertai sensasi hangat atau panas di sekitar mata.
Abu Vulkanik Sampai Jakarta
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga dilaporkan mencapai Jakarta. Material tersebut terlihat di kawasan car free day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026).
Sejumlah warga yang beraktivitas di kawasan tersebut memilih menggunakan masker untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik.
Doni, warga Jakarta Utara, mengatakan kondisi pernapasannya terasa sedikit lebih berat.
“Iya, agak berat gitu [napas]. Mata sih belum, kayaknya baru di hidung ya,” katanya.
Di Cengkareng Timur, Jakarta Barat, Nurkuntari menemukan debu cukup banyak di dalam rumahnya.
“Biasa jam enam pagi selalu buka pintu rumah. Terus selang lima menitan mau duduk di ruang tengah kok ngeres (banyak debu). Langsung dilap item banget. Biasanya enggak kaya gitu,” ujarnya.
Sementara itu, abu vulkanik tipis juga terlihat menyelimuti rumah warga dan menempel pada kaca kendaraan di Tangerang Selatan.
Menkes Minta Masyarakat Tidak Panik
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tetap tenang menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan, mata dan kulit.
“Ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama. Yang pertama, dari sisi kesehatan, abu vulkanik ini memiliki tiga dampak yang harus kita waspadai. Pertama adalah pernapasan, kedua mata, dan yang ketiga kulit,” kata Budi dalam konferensi pers, Minggu (6/9/2026).
Menurut Budi, masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah untuk mencegah paparan abu vulkanik.
Jika mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar abu, masyarakat diminta segera mendapatkan pertolongan medis.
“Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator,” kata Budi.
Dengan meluasnya abu vulkanik Anak Krakatau, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap mengikuti informasi resmi dan menggunakan perlindungan seperti masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
















