Erupsi Anak Krakatau Berakhir, Ganti Letusan Strombolian

Berita978 Dilihat

Jakarta, Berita Nusantara 89. Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Lampung Selatan telah berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut selesai, karakteristik erupsi gunung api itu kini berubah menjadi letusan strombolian.

Badan Geologi menyebut perubahan tersebut terjadi setelah episode erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari.

“Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir,” kata Badan Geologi melalui akun Threads @badan.geologi, Senin (7/9/2026).

Erupsi Anak Krakatau Berlangsung Sekitar 25 Jam

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau mulai pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB.

Aktivitas tersebut kemudian berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Dengan demikian, fase erupsi menerus berlangsung selama kurang lebih 25 jam.

Setelah fase tersebut berakhir, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami beberapa kali letusan strombolian.

Letusan strombolian merupakan tipe erupsi gunung api dengan ledakan relatif ringan. Aktivitas semacam ini dapat berlangsung dalam waktu lama dan memungkinkan sistem erupsi mengalami penyesuaian secara berulang.

Badan Geologi untuk sementara menginterpretasikan munculnya kembali erupsi strombolian sebagai tanda berakhirnya episode erupsi menerus yang berlangsung cukup panjang.

“Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunung Api Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,” jelas Badan Geologi.

Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga

Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau.

Badan Geologi menyatakan pemantauan secara berkala maupun ketika terdapat perubahan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi juga mengingatkan masih terdapat kemungkinan besar terjadinya letusan pada periode berikutnya.

Potensi kewaspadaan bahaya berasal dari lontaran batu pijar yang dapat disertai hujan abu lebat. Ancaman lainnya adalah aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.

Erupsi Anak Krakatau : Jauhi Radius 3 Kilometer

Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

Masyarakat di sekitar gunung api, termasuk pengunjung, wisatawan dan pendaki, tidak boleh memasuki kawasan tersebut.

Selain itu, masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar serta hujan abu lebat.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, Badan Geologi menyarankan agar mengurangi aktivitas di luar rumah.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat agar menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Warga Banten dan Lampung Agar Tetap Tenang

Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang.

Masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas mengenai kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau yang dapat menyebabkan tsunami.

Warga agar tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Untuk mendapatkan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Bandung melalui nomor (022) 7272606.

Informasi juga dapat diperoleh melalui Pos Pengamatan Gunung Krakatau di Pasauran melalui (0254) 651449 atau 085846324506.

Berakhirnya fase erupsi menerus tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau sepenuhnya berhenti. Karena statusnya masih Level III (Siaga), masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan informasi resmi dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan Badan Geologi.

Tinggalkan Balasan