Lo Kheng Hong Borong Saham Grup Salim Saat IHSG Keok

Borong 15,17 Juta Saham Lembar Saham Salim Grup

Berita360 Dilihat

Jakarta, Berita Nusantara 89. Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi perhatian pasar setelah membeli jutaan saham emiten milik Grup Salim (DILD) pada 4 Mei 2026. Manuver ini ia lakukan saat terjadi pelemahan saham grup properti tersebut.

Lo Kheng Hong membeli DLID ketika harga saham perusahaan tersebut mengalami penurunan hingga 38 persen dalam beberapa waktu terakhir. Investor yang berjuluk “Warren Buffett Indonesia” tersebut membeli sekitar 15,17 juta saham di tengah tekanan harga pasar. Valuasi nilai saham DILD dengan 129 per saham mencapai total 1,95 miliar.

Sementara DILD sendiri telah susu 10,22 persen year to date dan berada di 123 rupiah per saham pada penutupan pekan ini.

DILD merupakan kode emiten PT Intiland Development Property Tbk. Intiland merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia. Perusahaan ini memiliki sejumlah proyek di Jakarta, Surabaya dan kota kota besar lainnya.

Lo Kheng Hong Borong Saham Grup Salim Lagi

Selanjutnya Lo Kheng Hong juga melakukan aksi borong saham SIMP, Salin Ivomas Pratama Tbk. Salim Ivomas juga masih termasuk dalam Grup Salim. Lo Kheng Hong kali ini menjadi sorotan karena sebanyak 793,64 juta saham yang ia borong lagi. Kini ia memiliki 5,12 persen saham SIMP.

Salim Ivomas sendiri merupakan emiten perkebunan dan sawit milik Grup Salim. Pergerakan saham SIMP sendiri cenderung melemah dalam sebulan terakhir, turun 325 poin atau 38,24 persen pada Jumat kemarin.

Sebelumnya dari Laporan bulanan Registrasi Pemegang Efek per April 2026, pemegang SIMP mengalami kenaikan signifikan. Sebanyak 2308 investor baru memborong saham Salim Ivomas ini. Hal ini kemudian meningkatkan pemegang sahamnya menjadi 19.737 orang.

Lonjakan menjadi ramai setelah Lo Kheng Hong ikut memborong saham saham milik Grup Salim Mei ini.

IHSG Sedang Keok

Sementara itu, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) masih berada di zona negatif dengan koreksi mencapai 22,25%. Dalam sepekan terakhir, tekanan terhadap IHSG juga semakin dalam setelah indeks turun 246,07 poin atau 3,53% ke level 6.723.

Penurunan tersebut terjadi selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Kondisi itu membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut hingga Rp581 triliun. Akibatnya, total market cap BEI kini merosot menjadi Rp11.825 triliun.

Tekanan terhadap IHSG masih berlanjut pada perdagangan pekan depan. Sejumlah sentimen berpotensi membebani pergerakan pasar saham domestik.

Faktor negatif yang memengaruhi pasar antara lain libur panjang, proses rebalancing indeks MSCI, serta pengumuman FTSE Russell terkait pencoretan saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) pada Juni mendatang.

Phintraco Sekuritas menilai tekanan teknikal pada IHSG masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari pelebaran histogram negatif pada indikator MACD yang terus berlanjut. Selain itu, stochastic RSI juga bergerak menuju area oversold.

“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi uji level 6.700-6.650 pada perdagangan pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, dikutip Jumat (15/5/2026).

Tinggalkan Balasan