Malang, Berita Nusantara 89. Menhaj, Moch Irfan Yusuf menegaskan berbagai pembaruan pelaksanaan Haji 2026 dan menjadi tonggak baru pelayanan jemaah Indonesia di Tanah Suci. Pelayanan ini demi meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kualitas layanan bagi para jemaah selama menjalankan ibadah.
Transformasi tersebut melalui sistem yang lebih modern dan terintegrasi. Pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor agar seluruh kebutuhan jemaah dapat terpenuhi secara optimal.
Menhaj menyampaikan dalam sambutan Wukuf di Arafah pada 26 Mei 2026 bersama jemaah haji Indonesia dan Amirulhaj. Kemudian ada tim pengawas DPR RI. perwakilan pemerintah di Arab Saudi dan PPIH Arab Saudi.
Menhaj : Momen Sejarah Haji Pertama Kementerian Haji dan Umrah
Menhaj menegaskan momen penyelenggaraan haji tahun ini memiliki momen sejarah pertama di Kementerian Haji dan Umrah. Lebih jauh, agar negara hadir lebih dekat, sigap dan terukur dalam melayani jemaah haji.
“Jadi bukti negara hadir lebih fokus dan terarar serta lebih dekat dengan jemaah,” ujarnya.
Kemudian ia menjelaskan bahwa seluruh pemberangkatan 527 kloter telah rampung. Dengan 202.551 jemaah dan 2.098 petugas haji serta 16.596 jemaah haji khusus.
Saat ini pelayanan dalam fase Armuzna mencakup kesiapan tenda, penempatan, konsumsi, transportasi, pelayanan kesehatan dan penugasan petugas lapangan.
Menhaj mengungkapkan telah menyiapkan 15 porsi makanan siap saji Nusantara untuk mendukung kusyuknya ibadah para jemaah.
Selanjutnya untuk memperkuat pengawasan Kemenhaj menggunakan sistem digital berbasis Command Center, SIKABAH dan Kawal Haji. Lebih jauh, sistem ini memungkinkan petugas melakukan respon lebih cepat, terukur dengan basis data.
Tri Sukses Haji
Konsep Kementerian Haji dan Umrah dengan menekankan pada Tri Sukses Haji dalam penyelenggaraan. Hal ini terwujud dalam Sukses Ritual dengan pelaksanaan haji yang sah tertib dan khusyuk.
Selanjutnya ada Sukses Ekosistem melalui tata kelola yang dapat memberikan manfaat untuk bangsa. Kemudian Sukses Keadaban dan Peradaban dengan harapan dapat melahirkan pribadi yang sabar, disiplin, santun dan membawa kebaikan bagi Indonesia.
Selanjutnya Menhaj menegaskan bahwa keselamatan jiwa dan sahnya ibadah sebagai satu kebiijakan. Hal ini dengan skema murur untuk jemaah lansia, resiko tinggi, komorbid, disabilitas dan pendampingnya. Sehingga perjalanan serta ibadah mereka lebih aman.
“Jemaah harus merasa terlindungi. Keterbatasan harus mendapat dukungan. Petugas harus hadir dengan empati, sigap dan paham kebutuhan khusus jemaah,” pungkasnya.
















