Nyadran di Kedungmaron : Melestarikan Warisan Tradisi

Berita, Daerah83 Dilihat

Madiun, Berita Nusantara 89. Warga Desa Kedungmaron, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, kembali menggelar tradisi Nyadran di Punden Sentono Kasun I, Jumat (19/6/2026). Selain itu, tradisi tahunan ini menjadi wujud pelestarian budaya leluhur sekaligus mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Kepala Desa Kedungmaron beserta perangkat desa hadir dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya juga hadir Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai lingkungan di Desa Kedungmaron.

Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang memadukan nilai budaya dengan ajaran Islam. Selanjutnya, tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga merupakan penghormatan kepada para leluhur, serta memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

Kepala Desa Kedungmaron, Sudiman, mengatakan Nyadran bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan juga menjadi momentum untuk mengingat sejarah desa sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.

“Tradisi ini kami lestarikan agar masyarakat tetap mengingat sejarah dan asal-usul desa, sekaligus menjaga kebersamaan, kerukunan, serta semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Sudiman

.

Melestarikan Tradisi Nyadran di Kedungmaron
Melestarikan Tradisi Nyadran di Kedungmaron

Tradisi Nyadran : Doa Bersama dan Kenduri

Rangkaian kegiatan dengan dzikir dan doa bersama tokoh agama setempat. Dalam doa tersebut, masyarakat memohon keselamatan, keberkahan, serta mendoakan para leluhur agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Usai doa bersama, warga menggelar kenduri dengan menyantap hidangan dari rumah masing-masing. Suasana penuh keakraban terlihat saat masyarakat saling berbagi makanan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.

Menurut Sudiman, tradisi Nyadran memiliki makna yang lebih luas dari sekadar kegiatan seremonial. Tradisi ini menjadi media untuk mempererat solidaritas sosial sekaligus menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan mewariskannya secara turun-temurun.

“Bagi masyarakat Kedungmaron, Nyadran bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.

Warisan Budaya untuk Generasi Muda

Pemerintah Desa Kedungmaron berharap, generasi muda terus menjaga dan melestarikan tradisi Nyadran sebagai bagian dari identitas budaya desa. Selanjutnya juga dengan mewariskannya secara turun-temurun. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini dinilai tetap relevan karena mengandung nilai-nilai luhur yang mampu memperkuat karakter masyarakat.

Melalui pelestarian Nyadran, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal sejarah dan asal-usul desanya, tetapi juga memahami pentingnya menjaga persatuan, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Tradisi tersebut menjadi ruang belajar yang mengajarkan rasa syukur, penghormatan kepada para leluhur, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa.

Pemerintah desa juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini. Dengan demikian, Nyadran tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi warisan berharga yang mampu memperkokoh jati diri masyarakat Kedungmaron serta terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan