Jakarta, Berita Nusantara 89. Sistem imigrasi Malaysia lumpuh pada Kamis pagi dan memicu kekacauan di sejumlah pintu masuk negara tersebut. Ribuan turis, pekerja, hingga pengguna transportasi umum terlantar akibat proses pemeriksaan yang berhenti total selama beberapa jam.
Antrean panjang terjadi di bandara dan jalur perbatasan Johor-Singapura yang menjadi salah satu titik tersibuk di Asia Tenggara. Gangguan tersebut membuat petugas terpaksa melakukan pemeriksaan manual terhadap dokumen perjalanan. Situasi semakin semrawut karena insiden terjadi saat jam sibuk keberangkatan pekerja menuju Singapura.
Kendala di sistem nasional imigrasi ini lumpuh sekitar lima jam, melansir dari Channel News Asia, Sabtu (30/5/2025).
Gangguan Sistem Lumpuhkan Jalur Imigrasi di Seluruh Malaysia
Gangguan teknis ini mulai terjadi sejak dini hari waktu setempat. Sistem komputer utama imigrasi terkendala sehingga seluruh proses pemeriksaan otomatis berhenti sementara. Akibatnya, gerbang elektronik dan sistem pemindai wajah ikut tidak berfungsi. Petugas kemudian mengalihkan pemeriksaan ke metode manual untuk mempercepat antrean yang terus memanjang.
Sementara itu, kepadatan paling parah terjadi di dua pos pemeriksaan Johor yang menjadi akses utama pekerja lintas negara. Ribuan orang terlihat menunggu berjam-jam tanpa kepastian waktu keberangkatan. Selain itu, sejumlah terminal bandara juga penuh penumpang yang tertahan karena proses verifikasi dokumen berjalan lambat.
Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengatakan bahwa antrean panjang di kedua pos pemeriksaan darat Johor. Adapun kelumpuhan sistem itu terjadi pada ‘waktu puncak’ bagi puluhan ribu warga Malaysia yang bergegas ke Singapura untuk bekerja.
“Kami harus mengerahkan kembali semua personel kami untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan kendaraan,” katanya.
“Tidak hanya gerbang otomatis kami yang rusak, bahkan sistem pengenalan wajah kami pun juga tidak berfungsi,” katanya.
Lumpuhnya imigrasi ini menjadi kerusakan sistem imigrasi kedua dalam waktu kurang lebih sebulan. Sebelumnya, insiden serupa juga menyebabkan ribuan turis terlantar selama dua jam pada 23 April 2026 lalu.
Gangguan pagi ini memengaruhi 114 pos pemeriksaan imigrasi di seluruh Malaysia. Selanjutnya pengerahan personel keamanan tambahan untuk menjaga ketertiban.
Malaysia memiliki 56 titik masuk laut, 30 titik darat, dan 28 bandara. Meskipun banyak turis mengatakan gangguan mulai pukul 4.30 pagi, iimigrasi mengatakan insiden itu terjadi sekitar pukul 5 pagi dan berlangsung hingga pukul 8.45 pagi karena masalah teknis pada pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs).
Pejabat Imigrasi Buka Suara
Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, mengatakan masalah berasal dari pusat data sistem imigrasi nasional atau MyIMMs. Ia menegaskan gangguan tersebut bukan akibat serangan siber maupun peretasan pihak luar. Menurutnya, masalah murni terjadi karena kendala teknis pada sistem lama yang telah digunakan selama puluhan tahun.
“Sistem saat ini sudah beroperasi hampir 30 tahun,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution Ismail meminta langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Pemerintah Malaysia kini menyiapkan Sistem Imigrasi Terpadu Nasional atau NIISe sebagai pengganti MyIMMs. Platform baru itu untuk mengintegrasikan data paspor, visa, dan identitas pelancong dalam satu sistem digital modern.
Selanjutnya, sistem tersebut akan mulai beroperasi penuh pada 2028. Pemerintah berharap pembaruan teknologi mampu mengurangi risiko gangguan layanan di masa mendatang. Namun, selama proses transisi berlangsung, potensi kendala teknis masih mungkin terjadi.
“Kami akan bertahan hingga sistem siap,” ungkapnya.
Gangguan imigrasi membuat aktivitas perjalanan internasional Malaysia terganggu cukup serius. Ribuan orang terpaksa menunggu lama di terminal dan pintu perbatasan. Namun, sebagian layanan mulai kembali berjalan setelah perbaikan sistem secara bertahap.
Sistem imigrasi Malaysia lumpuh ini juga memicu sorotan terhadap kesiapan infrastruktur digital pemerintah menghadapi lonjakan mobilitas internasional. Terlebih, Malaysia akan menghadapi peningkatan arus perjalanan seiring pengoperasian berbagai proyek transportasi regional dalam beberapa tahun ke depan.













