Madiun, Berita Nusantara 89. Perang Malvinas atau Perang Falkland merupakan konflik bersenjata antara Argentina vs Inggris yang berlangsung selama 74 hari, mulai 2 April hingga 14 Juni 1982.
Argentina vs Inggris terlibat perang demi memperebutkan Kepulauan Falkland, Georgia Selatan, dan Kepulauan Sandwich Selatan yang berada di Samudra Atlantik Selatan.
Meski berlokasi hanya sekitar 480 kilometer dari pesisir Argentina, wilayah tersebut berada di bawah administrasi Inggris dan hingga kini masih menjadi sumber sengketa kedaulatan.
Perang Malvinas : Konfilk Argentina vs Inggris
Akar konflik Argentina vs Inggris bermula dari klaim kedaulatan yang saling bertentangan sejak abad ke-19. Sementara Argentina menganggap Kepulauan Falkland, yang mereka sebut Islas Malvinas, sebagai bagian dari wilayah nasional yang Inggris rebut pada 1833.
Sebaliknya, Inggris mempertahankan wilayah tersebut sebagai salah satu teritori seberang lautnya. Penduduk kepulauan yang mayoritas merupakan keturunan Inggris juga secara konsisten menolak klaim Argentina.
Ketegangan memuncak pada 1982 ketika Presiden Argentina saat itu, Leopoldo Galtieri, memutuskan mengambil alih kepulauan tersebut melalui operasi militer.
Selain alasan historis, keputusan itu terpengaruh kondisi politik dalam negeri. Pemerintahan junta militer Argentina menghadapi tekanan akibat krisis ekonomi serta tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Selanjutnya Argentina berharap Invasi ke Falkland mampu membangkitkan nasionalisme dan mengalihkan perhatian publik.
Pada 2 April 1982, pasukan Argentina mendarat di Kepulauan Falkland. Sehari kemudian mereka menguasai Georgia Selatan. Aksi tersebut memicu kecaman Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menjadi awal pecahnya Perang Malvinas.
Perang Malvinas 1982
Pasukan Argentina berhasil menguasai ibu kota Stanley dalam waktu singkat. Setelah itu, pemerintah Buenos Aires menempatkan lebih dari 10.000 personel militer untuk mempertahankan wilayah tersebut.
Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher merespons dengan mengirim satuan tugas militer melalui Operasi Corporate. Armada Inggris terdiri atas 127 kapal perang, kapal selam, kapal logistik, pesawat tempur, dan ribuan personel militer yang berlayar menuju Atlantik Selatan.
Pada 25 April 1982, Inggris berhasil merebut kembali Georgia Selatan melalui Operasi Paraquet.
Konflik semakin memanas ketika kapal selam Inggris HMS Conqueror menenggelamkan kapal penjelajah Argentina ARA General Belgrano pada 2 Mei 1982. Insiden tersebut menewaskan sekitar 300 awak kapal.
Argentina kemudian membalas dengan menyerang kapal perusak Inggris HMS Sheffield menggunakan rudal Exocet yang diluncurkan pesawat Super Étendard pada 4 Mei. Serangan itu menewaskan 20 pelaut Inggris dan menyebabkan kapal mengalami kerusakan berat.
Selama beberapa pekan berikutnya, Angkatan Udara Argentina terus menyerang armada Inggris dengan rudal dan bom, sementara Inggris melanjutkan operasi pendaratan di Falkland Timur.
Pada 21 Mei 1982, sekitar 4.000 pasukan Inggris berhasil mendarat di San Carlos tanpa perlawanan berarti. Mereka kemudian bergerak menuju Stanley melewati medan berat, cuaca ekstrem, serta ladang ranjau.
Setelah serangkaian pertempuran sengit di sejumlah dataran tinggi strategis, pasukan Inggris berhasil mengepung ibu kota Stanley.
Pada 14 Juni 1982, Gubernur Militer Argentina di Falkland, Jenderal Mario Menéndez, menyatakan menyerah. Penyerahan tersebut menandai berakhirnya Perang Malvinas dengan kemenangan Inggris.
Penyelesaian Sengketa Falkland
Berakhirnya perang tidak otomatis mengakhiri sengketa kedaulatan antara kedua negara. Inggris tetap mempertahankan Kepulauan Falkland sebagai wilayah seberang laut dengan dasar hak menentukan nasib sendiri bagi penduduk setempat.
Pada referendum tahun 2013, hampir seluruh warga Falkland memilih tetap berada di bawah pemerintahan Inggris.
Sikap serupa kembali ditegaskan oleh Majelis Legislatif Kepulauan Falkland pada 2021. Namun, Argentina hingga kini masih mempertahankan klaim atas wilayah tersebut sehingga sengketa diplomatik belum benar-benar selesai.
Dampak Perang Malvinas
Perang Malvinas menelan korban jiwa sebanyak 907 orang, terdiri atas:
- 649 personel Argentina
- 255 personel Inggris
- 3 warga sipil Kepulauan Falkland
Selain korban jiwa, lebih dari 11.000 tentara Argentina akhirnya menyerahkan diri dan dipulangkan ke negaranya setelah perang berakhir.
Kemenangan tersebut juga membuat Inggris kembali menguasai Kepulauan Falkland, Georgia Selatan, dan Kepulauan Sandwich Selatan. Hingga kini, ketiga wilayah tersebut tetap berada di bawah administrasi Britania Raya dengan perlindungan militer dari British Forces South Atlantic Islands.
Fakta Singkat Perang Malvinas
| Keterangan | Informasi |
|---|---|
| Nama konflik | Perang Falkland / Perang Malvinas |
| Periode | 2 April – 14 Juni 1982 |
| Durasi | 74 hari |
| Pihak yang bertempur | Inggris dan Argentina |
| Penyebab utama | Sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland |
| Pemenang | Inggris |
| Korban jiwa | 907 orang |
| Status wilayah saat ini | Tetap menjadi wilayah seberang laut Britania Raya |
Perang Malvinas menjadi salah satu konflik penting pada akhir abad ke-20 yang menunjukkan bagaimana sengketa wilayah dapat berkembang menjadi peperangan terbuka. Meski konflik bersenjata telah berakhir sejak 1982, persoalan kedaulatan Kepulauan Falkland masih menjadi isu diplomatik yang belum terselesaikan sepenuhnya antara Inggris dan Argentina.
Argentina vs Inggris Dari Malvinas Hingga Ke Sepakbola
Konflik politik Argentina vs Inggris itu ikut membentuk rivalitas sengit di dunia sepak bola. Pertemuan paling ikonik terjadi pada Piala Dunia 1986 di Meksiko ketika Argentina mengalahkan Inggris 2-1 di perempat final.
Pertandingan tersebut dikenang karena dua gol legendaris Diego Maradona. Pertama Hand of God, gol kontroversial Maradona menggunakan tangan. Selanjutnya Goal of the Century, aksi solo run melewati lima pemain Inggris sebelum mencetak gol.

Bagi banyak warga Argentina, kemenangan itu dianggap sebagai bentuk “balas dendam” simbolis atas kekalahan dalam Perang Malvinas. Akhirnya Maradona berhasil membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986.
Selanjutnya laga panas Argentina vs Inggris kembali terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 1998. Insiden David Beckham setelah bereaksi terhadap pelanggarang Diego Simeone berbuah kartu merah.
Laga sengit di babak pertama dengan empat gol tercipta hingga penentuan pemenang melalui adu penalti. Gol Gabriel Batistuta di menit 5 dari titik penalti langsung Inggris balas lewat Alan Shearer 55 menit berselang. Selanjutnya gol solo Michael Owen menit 16 menggandakan keunggulan Inggris. Kemudian Javier Zanetti menjadi pencetak gol terakhir jelang turun minum.
Drama kartu merah Beckham mewarnai sengitnya tensi duel Argentina vs Inggris. Akhirnya Argentina berhasil menang 4-3 dalam adu penalti, dua penendang Inggris gagal (Ince dan Batty) sementara Argentina dengan Crespo yang gagal penalti.
Kali ini duel Argentina vs Inggris akan kembali terjadi di laga Semifinal Piala Dunia 2026. Akankah Inggris dapat melakukan balas dendam setelah Piala Dunia 1986 dan 1998. Atau Messi dan Argentina mampu mengulang final Piala Dunia 2022 untuk back to back champion ?













