Ponorogo, Berita Nusantara 89. Sekitar 30 kepala keluarga menghadapi krisis air bersih. Kondisi tersebut terjadi di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Krisis Air Ponorogo ini setelah aliran PDAM berhenti selama sekitar tiga minggu.
Selain mengandalkan PDAM, warga biasanya memanfaatkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, musim kemarau membuat sejumlah sumur warga mulai mengering.
Kondisi itu memaksa warga mencari sumber air lain. Sebagian membeli air galon, mengambil air ke desa sebelah, hingga menumpang mandi di rumah saudara atau tetangga. Jarak yang harus warga tempuh untuk mendapatkan air bahkan mencapai sekitar 1 kilometer.
Krisis Air Ponorogo : Aliran PDAM Mati Tiga Minggu
Salah seorang warga, Rida Asmawati (45), mengatakan aliran PDAM sebelumnya masih mengalir setiap dua hari sekali. Namun, debit air terus menurun sebelum akhirnya berhenti total.
“Awalnya PDAM masih mengalir dua hari sekali. Lama-lama kecil terus, tiga minggu ini sudah tidak mengalir sama sekali,” kata Rida, Selasa (11/8/2026).
Menurut Rida, warga tidak menuntut aliran air sepanjang hari. Mereka hanya membutuhkan kepastian pasokan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
“Kalau bisa PDAM dari Pulung airnya mengalir setiap hari. Kalau tidak, dua hari sekali juga cukup. Mengalir lima atau enam jam mungkin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya.
Kepastian pasokan menjadi penting bagi warga karena sebagian besar sumber air alternatif juga menghadapi masalah akibat kemarau.
Sumur Warga Mulai Mengering
Setelah aliran PDAM berhenti, warga mencoba memanfaatkan sumur yang masih memiliki air. Namun, kondisi kemarau membuat persediaan air di sejumlah sumur terus berkurang.
Rida menunjukkan salah satu sumur yang masih memiliki air. Akan tetapi, kondisi air terlihat kotor sehingga warga khawatir menggunakannya untuk kebutuhan konsumsi.
“Airnya tidak bersih, tidak layak untuk diminum. Takut gatal juga karena sumbernya dari sungai, sementara sungainya juga kotor,” jelas Rida.
Warga akhirnya memilih sumber air berbeda sesuai kebutuhan. Untuk minum, mereka membeli air galon. Sementara untuk mandi, sebagian warga menumpang di rumah tetangga yang masih memiliki persediaan air.
“Kalau untuk mandi kadang numpang di rumah tetangga. Di sini banyak yang sumurnya sudah mengering,” ungkapnya.
Krisis Air Ponorogo : Warga Terpaksa Beli Air Galon
Warga lainnya, Soirah (65), mengatakan kesulitan air bersih sudah berlangsung sekitar satu bulan.
Menurut Soirah, kondisi awalnya masih lebih baik karena air PDAM sempat mengalir. Namun, debit air terus berkurang hingga akhirnya tidak mengalir sama sekali.
“Sudah satu bulanan ini susah, tidak ada air. Dulu sempat ada, tapi sekarang tidak ada sama sekali,” kata Soirah.
Warga sempat mengandalkan sumur milik tetangga. Cara tersebut membantu warga mendapatkan air untuk sementara waktu.
Namun, sumur tetangga juga mulai mengering. Kondisi tersebut membuat warga kehilangan salah satu sumber air alternatif.
“Awalnya minta ke sebelah, ke sumur tetangga. Sekarang sumurnya juga sudah habis,” ujarnya.
Soirah kemudian membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam sehari, ia bisa membeli dua hingga tiga galon.
“Sehari beli dua sampai tiga galon. Itu untuk mandi sama masak,” ungkapnya.
Pengeluaran tambahan tersebut tentu menambah beban warga. Mereka harus mengeluarkan uang untuk memperoleh air di tengah kondisi pasokan yang tidak menentu.
Warga Ambil Air ke Desa Sebelah
Ketika membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak, warga mencari pasokan dari wilayah sekitar. Sebagian warga mengambil atau meminta air ke desa sebelah.
Jarak dari Dusun Dungus menuju lokasi tersebut sekitar 1 kilometer. Warga harus menempuh jarak tersebut ketika membutuhkan air dalam jumlah yang lebih banyak.
Untuk kebutuhan mandi, sebagian warga memilih mendatangi rumah saudara atau tetangga yang masih memiliki air.
“Kalau mandi kadang numpang di rumah teman atau saudara. Jaraknya sekitar satu kilometer,” jelas Soirah.
Situasi tersebut tentu lebih berat bagi warga lanjut usia. Soirah mengaku kesulitan jika harus terlalu sering bepergian jauh hanya untuk mendapatkan air.
Kebutuhan air sendiri berlangsung setiap hari untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya.
Warga Siapkan Tempat Penampungan Air
Sebenarnya warga sudah menyiapkan sejumlah wadah penampungan air di pinggir jalan. Mereka menyiapkan tempat tersebut untuk menampung bantuan air bersih dari pemerintah maupun pihak lain.
Persiapan itu menunjukkan warga sudah mengantisipasi kemungkinan datangnya bantuan air bersih.
Namun, hingga Selasa (11/8/2026), warga mengaku bantuan air yang mereka tunggu belum datang.
“Katanya ada bantuan air, tapi sampai sekarang belum datang. Tempatnya sudah kami siapkan,” pungkas Soirah.
Warga berharap bantuan air segera datang agar mereka tidak terus bergantung pada air galon atau harus mencari air ke wilayah lain.
Krisis Air Ponorogo Makin Berat Saat Kemarau
Krisis Air Ponorogo di Dusun Dungus tidak hanya berkaitan dengan berhentinya aliran PDAM. Musim kemarau juga memperburuk kondisi karena sejumlah sumur warga mulai kehilangan persediaan air.
Ketika dua sumber air tersebut mengalami gangguan, warga harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagian warga memilih membeli air galon. Warga lainnya meminta air dari tetangga atau mengambil air ke desa sebelah.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pasokan air bersih yang teratur bagi masyarakat, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
Bagi warga Dusun Dungus, kepastian aliran PDAM menjadi kebutuhan utama. Mereka berharap pasokan air kembali berjalan meskipun tidak harus tersedia sepanjang hari.
Warga Berharap Pasokan Air Segera Kembali
Sekitar 30 kepala keluarga kini menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Warga berharap persoalan aliran PDAM segera mendapat perhatian sehingga mereka tidak perlu mencari air ke tempat lain.
Rida berharap PDAM dapat memberikan kepastian jadwal aliran air. Menurutnya, aliran selama lima atau enam jam setiap hari sudah cukup membantu warga memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, warga juga berharap bantuan air bersih segera datang. Wadah penampungan yang sudah mereka siapkan dapat langsung digunakan ketika bantuan tiba.
Krisis air bersih di Dusun Dungus menjadi persoalan serius karena warga harus menghadapi dua masalah sekaligus, yakni berhentinya aliran PDAM dan berkurangnya persediaan air sumur akibat kemarau.
Warga kini berharap pasokan air segera kembali agar kebutuhan minum, memasak, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya dapat terpenuhi.


















