Menjaga Kompas Moral di Era Digital: Dialog Romo Tawar dan Gus Pesantren dari Pendopo Rembuk Sworo

Berita91 Dilihat

Sidoarjo, Berita Nusantara 89. ​ Jarum jam baru melewati pukul 10 malam ketika angin dingin melintas di antara tiang kayu Pendopo Rembuk Sworo, Sidokerto, Buduran, pada Senin yang sunyi. Di bawah keheningan malam yang mulai merayap, aroma kopi hitam pekat berbaur hangat dengan kepulan asap rokok yang perlahan-lahan menghilang ke udara.

Tempat ini, dengan dinding anyaman bambunya, memang kerap menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemikir, budayawan, hingga tokoh agama lokal. Mencoba untuk mengurai benang kusut persoalan sosial. Malam itu, timestamp di spanduk Marlboro di latar belakang menunjukkan waktu 2026:06:08 22:20. Menetapkan waktu percakapan yang mendalam ini di tengah temaram cahaya warkop.

​Di sudut meja putih yang penuh berbagai objek seperti kacamata hitam, kunci, dan asbak naga yang unik, duduk Romo Tawar. Seorang penata panggung sekaligus pegiat kesenian Ludruk Bintang Timur yang rambutnya mulai memutih dimakan usia. Tatapan matanya tajam menyiratkan kekhawatiran yang mendalam ketika jemarinya yang menggenggam rokok mengetuk-ngetuk cangkir lurik di tengah sunyinya malam Buduran.

Bagi Romo Tawar, panggung ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan sebuah madrasah kultural di mana tuntunan moral dan unggah-ungguh (tata krama) Jawa. Kemudian disuntikkan secara halus kepada penonton lewat lakon-lakon kehidupan.

​Di hadapannya, Gus Arief, seorang tokoh muda kharismatik dari Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, Siwalanpanji, mendengarkan dengan takzim. Penampilannya jauh dari kesan kaku, ia berpakaian santai layaknya anak gaul zaman sekarang, gaya kasual kaos cokelat muda yang bersih dan rapi.

Dengan tangan bersedekap, sebuah perpaduan yang menarik antara modernitas dan wibawa khas pesantren yang sarat sejarah. Ponpes Al-Hamdaniyah sendiri terkenal sebagai salah satu mercusuar ilmu agama tertua di Sidoarjo. Tempat di mana fondasi akhlak luhur tertempa selama berabad-abad melalui kitab-kitab suci dan keteladanan para ulama.

​Perbincangan mereka mengalir tanpa sekat sejak pukul 22.00 WIB, bermula dari keprihatinan terhadap gaya hidup anak muda zaman sekarang. Mereka yang kerap terjebak dalam dunia maya hingga larut malam, acuh terhadap realitas sekeliling.

Menjaga Kompas Moral di Era Digital

Romo Tawar membuka obrolan dengan getir, mengeluhkan derasnya arus teknologi menggerus andhap asor—rendah hati dan hormat kepada yang lebih tua. Ia merasa gawai telah merebut panggung interaksi sosial yang nyata, menggantikannya dengan panggung pamer virtual yang miskin empati. Yang secara visual terefleksikan oleh suasana sunyi di sekitar mereka di pendopo malam itu.

​”Dulu, Gus, anak muda lewat di depan orang tua itu membungkuk, ada rasa pekewuh.” Ujar Romo Tawar sambil menghela napas panjang menembus kepulan asap rokoknya. Ia menambahkan bahwa dalam dunia ludruk, pesan moral selalu menekankan bahwa kepintaran tanpa etika akan berujung pada kehancuran. Namun kini, di era media sosial, batasan antara yang sopan dan yang tidak sopan menjadi kabur demi sebuah konten viral, seolah-olah adab telah tergusur oleh angka pengikut dan tanda suka di layar gawai.

al-adabu fauqal ‘ilmi

​Menanggapi hal itu, Gus Arief mengangguk setuju seraya membenarkan dari sudut pandang religius. Bahwa di dunia pesantren, ada kaidah emas yang berbunyi al-adabu fauqal ‘ilmi, bahwa adab itu jauh di atas ilmu pengetahuan. Gus Arief menyayangkan betapa kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat tidak imbang dengan filter spiritual yang kuat. Makin banyak orang cerdas secara digital namun mengalami degradasi atau penurunan nilai akhlak dalam kehidupan nyata.

​Titik temu pemikiran kedua tokoh ini semakin menguat saat mereka membahas bagaimana algoritma internet sering kali memanjakan ego manusia. Romo Tawar melihat anak muda zaman sekarang mudah mencaci di tanpa memikirkan perasaan orang lain, sesuatu yang tabu dalam filosofi ketimuran. Sementara Gus Arief memandangnya sebagai hilangnya prinsip tabayun dan terkikisnya rasa takut akan dosa lisan, yang berpindah ke ujung jempol.

​Di tengah remang lampu pendopo dan jarum jam yang terus berputar mendekati tengah malam, keduanya sepakat bahwa teknologi tidak bisa memusuhi, melainkan harus terkendali dengan bijaksana. Romo Tawar berniat menyelipkan pesan literasi digital lewat banyolan ludruknya, sementara Gus Arief berkomitmen memperketat benteng akhlak di pesantren. Tak sekadar wacana di meja dengan asbak naga dan gelas kopi, keresahan malam itu sepakat berlanjut ke program podcast khusus. Nantinya juga akan diproduksi langsung dari Pendopo Rembuk Sworo demi merangkul generasi milenial dan Gen Z secara lebih luas.

​Ketika jam tepat menunjukkan pukul 12 malam, pergantian hari mulai menyapa, perbincangan hangat di Pendopo Rembuk Sworo itu pun harus diakhiri. Di samping gerakan mandiri, kedua narasumber ini menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo ikut andil menelurkan kebijakan atau program konkret. Seperti penguatan kurikulum karakter lokal di sekolah atau ruang kreasi digital yang sehat—untuk meminimalisir krisis moral ini. Sambil merapikan kaosnya, Gus Arief dan Romo Tawar melangkah meninggalkan pendopo yang mulai sunyi. Bersiap menyuarakan kembali kegelisahan ini lewat mikrofon podcast di pertemuan berikutnya. Arifin.

Tinggalkan Balasan